Sore hujan rintik. Kajian jelang berbuka yang diasuh Wak Modin tetap dihadiri banyak warga kampung. Suasana sejuk merayap dengan cerita penuh hikmah. Kosdu asyik menyimak, kadang tertawa cekikikan bersama jamaah.
Luqman adalah orang bijak yang namanya diabadikan di dalam kitab suci Al Qur’an. Ia bukan nabi atau rasul, namun dari kisah hidup dan nasihat pada anaknya merupakan juga nasihat pada Kosdu dan siapa saja. Salah satunya adalah kisah saat beliau bepergian bersama anaknya dengan membawa keledai.
Berikut ringkasan ceritanya…
Suatu hari, Luqmanul Hakim berjalan bersama anaknya sambil membawa seekor keledai. Mereka hendak pergi ke suatu tempat. Awalnya keduanya berjalan kaki, keledai tidak dinaiki. Orang-orang yang melihat berkata.
“Lihat itu! Bodoh sekali, punya keledai tapi tidak ditunggangi.”
Mendengar itu, Luqman menyuruh anaknya naik keledai, sementara ia berjalan kaki. Anak naik, ayah berjalan. Orang-orang lain berkomentar.
“Anak itu tidak sopan! Ayahnya yang tua berjalan kaki, dia malah enak naik keledai.”
Maka mereka bertukar posisi. Luqman yang naik, anaknya berjalan. Ayah naik, anak berjalan. Orang-orang kembali berkomentar:
“Ayah macam apa itu? Tidak sayang anak, membiarkan anak kecil berjalan kaki.”
Akhirnya, mereka berdua naik keledai bersama-sama. Keduanya naik, orang-orang tetap berkomentar.
“Kasihan keledai itu! Terlalu berat bebannya.”
Setelah itu, Luqman berkata kepada anaknya kira-kira begini,
“Wahai anakku, siapa yang selalu mengikuti perkataan manusia tidak akan pernah selamat dari celaan mereka. Maka lakukanlah yang benar menurut Allah, bukan menurut omongan manusia.”
Kosdu berfikir, memang dalam hidup ini tidak mungkin menyenangkan semua orang. Jangan mudah terpengaruh oleh kritik yang tidak membangun. Pegang prinsip kebenaran dan kebijaksanaan. Gunakan akal sehat sebelum mengikuti pendapat orang lain.
Kosdu mengambil pelajaran kisah ini digunakan sebagai pelajaran tentang percaya diri dan keteguhan hati. Tidak perlu risau dengan omongan orang bila yakin sikap yang dilakukan sesuai dengan prinsip kebenaran yang diyakini.
Pengajian di masjid kampung jelang berbuka ini semakin klop, hujan rintik dengan kisah yang adem, Ramadan terasa lebih tenteram. Saat azan maghrib mulai berkumandang, kurma dan pisang goreng hangat ikut menghangatkan suasana, teh tak seberapa manis pun disruput…alhamdulillah. (*)
