Kosdu Kehilangan Pahala Kebaikan

*) Oleh : Rodli TL.
Dosen Sastra Dan Film Unisda. Ketua PCM Kalitengah. Wakil Ketua Umum MUI Kec. Kalitengah. Anggota LDK PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Kosdu yang merupakan marbot masjid dikenal orang yang taat, salat tepat waktu, rutin rawatib qobliyah bakdiyah, dhuha bahkan tahajud. Lisannya juga baik, tidak suka membicarakan keburukan orang. Ia selalu tersenyum dan menyapa pada setiap orang yang ditemuinya.

Kosdu nampak hidupnya bersahaja, walau tak punya apa-apa selain yang melekat pada tubuhnya. Kosdu tidak pernah memelas kepada siapapun untuk dikasihani. Namun banyak jamaah yang baik kepadanya.

Suatu hari Kosdu diberi jamaah handphone bekas yang bisa dibuat lihat video di medsos. Pemberi merasa kasihan pada Kosdu yang tinggal di kampung, jarang dapat hiburan selain berkumpul dengan jamaah masjid. Sekarang Kosdu merasa punya banyak hiburan dengan handphone bekasnya. Ia sering putar ceramah pendek dan murotal.

Kosdu terhenyak saat mendengar kajian Wak Modin yang menceritakan salah satu hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah. Ternyata ada larangan Allah yang cukup berbahaya selain syirik, durhaka kepada orang tua, dan sumpah palsu, yaitu kebiasaan bermaksiat kala sepi.

Dari Thawban RA, Rasulullah saw bersabda,

“Aku tahu ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sebesar gunung Tihamah yang putih, lalu Allah jadikan itu semua sebagai debu yang berhamburan.

Thawban berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat-sifat mereka, jelaskanlah kepada kami siapa mereka, agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa kami sadari.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya mereka itu saudara kalian, dari kulit kalian, dan mereka shalat malam seperti kalian. Tapi, jika mereka sepi dari manusia, mereka bermaksiat kepada Allah.'” (HR. Ibnu Majah)

Semenjak Kosdu punya smartphone yang biasa digunakan lihat video, Kosdu sering tergoda lihat video syuuuuur saat sepi, bahkan hampir saja terjebak judol. Untung saja ia tak punya uang untuk ikut bermain yang menjebak banyak anak muda dalam permainan judol.

Saat disampaikan tentang pahalanya yang habis saat maksiat kala sepi. Kosdu merasa semua kebaikan yang pernah ia amalkan rasanya habis, ibadanya sia-sia. Harus mulai dari nol lagi. Beruntung Kosdu tidak putus asa. Ia tetap Istikamah ibadah, dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak terjebak lagi dengan tontonan syuuuur di handphonenya.

Kosdu baru tahu kalau ada maksiat yang tidak hanya sebagai pemberat timbangan dosa, ternyata juga bisa menghabiskan amal kebaikan sebesar dan sebanyak apapun. Dosa itu adalah sok alim ketika ramai, namun gemar melanggar yang diharamkan Allah saat sendirian.

Andai saja tidak malu, Kosdu berteriak sekencang-kencangnya dari atas menara masjid, meminta ampun atas kebodohannya selama ini.

Lamongan, 3 Februari 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search