Sesungguhnya puasa itu ibadah yang cukup istimewa, bisa mengubah karakter buruk menjadi akhlak yang mulia. Namun kemuliaan itu belum nampak pada diri Kosdu. Puasanya masih sekedar mengubah jadwal rutinitas makan. Ada kebiasaan buruk Kosdu yang masih sering dilakukan saat puasa, bicara bohong.
“Berbohong itu pemanis pergaulan,” ujar Kosdu. Tanpa ucapan bohong guyonan kurang renyah. Bohong saat berdagang itu biasa. Buat laporan jauh dari realitas lapangan dalam urusan pemerintah itu lumrah. Itulah yang sulit bagi Kosdu bersikap jujur di tengah masyarakat. “Jujur Ajur” tagline anak gaul, hehehe….
Kosdu lupa akan nasihat kanjeng Nabi tentang ucapan bohong saat berpuasa.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dengan puasanya (menahan) makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Nasihat kanjeng nabi yang hampir tiap tahun disampaikan Wak Modin saat kultum tarawih, namun masih terasa tembang yang dilantunkan saat ada acara hajatan, untuk klangengan dan hiburan semata. Nasihat kebaikan di bulan Ramadan terasa sebatas pelengkap ibadah puasa.
Lebih dari dua puluh tahunan Kosdu menjalankan ritual puasa Ramadan bersama warga kampung. Namun timbangan gula terus berkurang, anggota dewan tetap minta uang jasa bila mengusulkan bantuan.
Andai saja Kosdu itu seekor ulat, ia tetap menjadi ulat, merayap di pohon bersama ribuan ulat lain di tanaman yang tumbuh di perkampungan. Kosdu belum bisa menjadi kupu-kupu. Setelah mengentung seharusnya tidak lagi membiasakan berbohong dalam ucapan dan perbuatan, tidak lagi merusak dan menjijikkan. (*)
