Rasanya baru kemarin Kosdu bermain bersama membuat petasan dari tanah liat dan patrol keliling kampung. Kini teman-teman sepermainannya sudah memiliki anak remaja, bahkan ada yang sudah punya menantu dan menggendong cucu. Waktu begitu cepat, Kosdu merasa belum melakukan apa-apa, banyak kesempatan yang terbuang sia-sia.
Ketika ngaji tafsir surat Al-Ashr, Kosdu merasa menjadi salah satu orang yang sangat rugi. Imanya masih bergantung pada situasi, merasa belum banyak beramal saleh yang bisa dikatagorikan amal jariyah. Belum punya kebaikan yang bisa diwariskan ke generasinya.
Padahal Kosdu sejak kecil sudah hafal dan rutin melantunkan surat Al-Ashr, surat pendek terdiri dari 3 ayat yang dibaca setiap memulai pelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Ayat-ayat itu melekat di kepala Kosdu karena didrill selama 6 tahun, selalu dilantunkan untuk memulai pelajaran.
Teologi Al-‘Ashr adalah konsep pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang berakar dari surah Al-‘Ashr, menekankan disiplin waktu, etos kerja, dan amal saleh untuk menghindari kerugian. Empat pilar utamanya meliputi iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran. Ajaran ini membentuk kepribadian yang visioner, pekerja keras, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
Empat Pilar keselamatan berdasarkan ayat 3 surat Al-‘Ashr, manusia tidak merugi jika:
- Memiliki iman yang kuat dilandasi ilmu.
- Beramal saleh yang produktif dan bermanfaat untuk orang lain.
- Saling menasihati dalam kebenaran dalam bentuk dakwah atau advokasi.
- Saling menasihati dalam kesabaran, pantang menyerah dalam beramal.
Etos Perjuangan dan konsep tersebut diajarkan KH. Ahmad Dahlan sebagai landasan gerakan dakwah berkemajuan, berorientasi pada tindakan nyata, sosial kemasyarakatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Teologi ini menjadikan pengikutnya selalu ingin maju, disiplin, dan memberikan dampak sosial melalui amal usaha.
Amal saleh itu menjadi amal usaha schooling dengan membangun lembaga pendidikan dari usia dini sampai Perguruan Tinggi serta pesantren, feeding dengan membangun ratusan panti asuhan, LAZISMU, MDMC untuk menolong kesengsaraan dan kesiapsiagaan dalam kebencanaan yang peranannya cukup luas dan profesional, yang telah diakui WHO. Dan healing dengan membangun ratusan rumah sakit dan klinik.
Kosdu sedikit merasa lega bila ada gerakan amal saleh secara berjamaah, sebab walau seribu, dua ribu, Kosdu pernah memasukkan pada kotak infak masjid yang tujuannya selain membangun masjid juga membangun amal saleh lain. Membantu saudaranya di Sumatra, Aceh bahkan Palestina. Tidak sekedar mengirim makanan, tapi juga membangunkan tempat ibadah yang hancur, sekolah, bahkan rumah sakit.
Secara individu, Kosdu belum merasa memiliki amal saleh yang cukup. Kosdu termasuk orang yang rugi. Tapi sesungguhnya Kosdu bisa bersandar pada amal saleh yang menjadi amal usaha bersama, berkesinambungan terus berkembang dan maju bermanfaat sesuai kebutuhan zaman. (*)
