Kotagede dalam Jejak Islam dan Muhammadiyah: Haedar Nashir Resmikan Enam Amal Usaha

www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya memahami nilai sejarah Kotagede sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan Islam di Nusantara. Menurutnya, kawasan ini merupakan titik awal berdirinya Kerajaan Islam Mataram pada tahun 1570 M, dipimpin oleh Ki Ageng Pamanahan dan dilanjutkan oleh Pangeran Senopati hingga Sultan Agung.

“Sejarah ini penting bagi kita. Kesultanan di Yogyakarta adalah kerajaan Islam. Islam tidak bisa dilepaskan dari sejarah Mataram dan masyarakat Yogyakarta,” ujar Haedar dalam sambutannya pada Pengajian Akbar sekaligus peresmian sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (2/8/2025).

Acara ini diselenggarakan di Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta, dan menjadi momen reflektif atas peran strategis Kotagede dalam jejak peradaban Islam dan gerakan Muhammadiyah di tanah Yogyakarta.

Haedar mengungkapkan, Kotagede memiliki arti khusus dalam perjalanan hidupnya. Ia merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan daerah ini.

“Saat aktif di IPM tahun 1983–1985, saya sering keluar masuk tempat ini untuk rapat dan kegiatan. Tempat ini punya kesan mendalam,” ungkapnya.

Ia juga mengenang rumah almarhum Bashori, tokoh Muhammadiyah Kotagede, yang kini difungsikan sebagai Pondok Tahfidzul Quran. Ia menilainya sebagai bentuk amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir.

“Bapak ibu juga yang menyumbangkan untuk kepentingan agama dan pendidikan ini juga insyaAllah akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir walaupun kita sudah berada di alam yang lain,” tuturnya.

Menurut Haedar, sejarah Islam di Kotagede dapat dijadikan fondasi untuk memperkuat relasi sosial dan budaya Islam di masa kini. Ia juga menyoroti bagaimana Kotagede menempati posisi penting dalam sejarah Muhammadiyah.

“Tahun 1922 sudah menjangkau Surakarta, Pekalongan, Garut, Batavia, hingga Aceh. Tahun 1926 sudah masuk Sulawesi dan Papua. Tidak ada ormas Islam lain yang secepat itu penyebarannya,” tegasnya.

Haedar menyebut Muhammadiyah sebagai kekuatan Islam yang menyatu dengan semangat kebangsaan dan kemanusiaan semesta.

Ia juga mengangkat nama besar Prof. Rasjidi, Menteri Agama pertama RI asal Kotagede, yang merupakan lulusan Mu’allimin Yogyakarta, Universitas Al-Azhar Mesir, dan Sorbonne Paris.

“Waktu itu sangat langka seorang santri bisa kuliah ke Eropa. Ini harus jadi teladan bagi anak-anakku sekalian di Kotagede ini,” ajaknya kepada para pelajar.

Ia mendorong generasi muda untuk menjadi ulul albab—yaitu pribadi berilmu, berhati jernih, dan dekat dengan Allah, sebagaimana tersirat dalam QS Ali ‘Imran: 190–191.

Lebih lanjut, Haedar menyoroti potensi ekonomi masyarakat Kotagede yang sejak dulu dikenal sebagai pusat perdagangan, bagian dari warisan para saudagar Muslim.

“Coba bayangkan, pusat kerajaan Islam, pusat ilmu, pusat dagang—luar biasa Kotagede ini,” ujarnya dengan penuh kekaguman.

Namun, ia menegaskan bahwa potensi besar ini hanya akan berdampak jika seluruh Amal Usaha Muhammadiyah—seperti masjid, sekolah, rumah sakit, dan pondok pesantren—digerakkan secara kolektif dan sinergis untuk menciptakan masa depan Islam yang berkemajuan.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga meresmikan enam AUM di Kotagede secara simbolis dengan penandatanganan prasasti. Keenam unit tersebut adalah:

  • Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta
  • Kampus 2 SD Muhammadiyah Purbayan
  • Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Muhammadiyah Ibnu Juraimi Cokroyudan dan Kudusan
  • TK ABA Bodon
  • RS PKU Muhammadiyah Kotagede

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat, dihadiri para tokoh Muhammadiyah Kotagede, ulama, guru, karyawan, serta siswa dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah setempat. Momentum ini menjadi pengingat akan kesatuan antara sejarah, pendidikan, dakwah, dan penguatan sosial-ekonomi dalam semangat Islam yang tercerahkan. (*/tim)

Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Search