Lailatul Qadar

Abdul Mu'ti
*) Oleh : Abdul Mu’ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI
www.majelistabligh.id -

PADA sepuluh hari terakhir Ramadan, sebagian umat Islam berkeyakinan akan ada Lailatul Qadar. M Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Madhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (1996) menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terdiri atas lail dan qadar.

Lail berarti malam, sedangkan qadar memiliki tiga pengertian. Pertama, penetapan dan pengaturan. Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, kemuliaan. Lailatul Qadar adalah malam yang mulia, tiada yang menandingi dan melebihi kemuliaannya. Itulah malam ketika Allah menurunkan Al-Qur’an. Ketiga, sempit. Lailatul Qadar adalah malam yang sempit karena para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi.

Lebih lanjut Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ketiga pengertian tersebut dapat menjadi benar karena malam itu adalah malam mulia, yang apabila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia dan bahwa pada malam itu malaikat turun ke bumi membawa ketenangan serta kedamaian.

Jika dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an, Lailatul Qadar sudah tidak ada lagi. Pewahyuan Al-Qur’an berakhir setelah Rasulullah saw wafat.

Keyakinan akan adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan didasarkan pada beberapa hadis. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Carilah olehmu sekalian Lailatul Qadar itu pada malam witir (ganjil) sepuluh terakhir bulan Ramadan.”

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beribadah pada Lailatul Qadar dengan iman dan ikhlas maka diampuni dosanya yang telah lalu.”

Beberapa riwayat menyebutkan Lailatul Qadar turun pada malam ke-27, 25, 23, 21, bahkan ada yang menyebutkan 19 Ramadan, dengan tanda-tanda alam tertentu. Meskipun demikian, tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar. Umat Islam yang beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan berharap dua: ampunan atas segala dosa dan pahala ibadah yang berlipat ganda, lebih baik daripada seribu bulan.

Terlepas dari perdebatan apakah Lailatul Qadar masih ada dan kapan terjadinya, dalam tulisan ini penulis mengemukakan beberapa pendapat. Pertama, dari sudut pandang teologi, Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi peraturan-peraturan Allah. Manusia akan meraih kehidupan yang damai apabila mereka melaksanakan semua peraturan Allah dengan seluruh dan sepenuh kemampuan.

Kedua, dari sudut pandang syariat, Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Mahakuasa. Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang beribadah mengharapkan rida-Nya. Dengan rida-Nya, Allah mengampuni dosa, mengabulkan doa, dan memberikan anugerah yang tidak diminta oleh manusia.

Ketiga, dalam perspektif psikologi, adanya Lailatul Qadar merupakan motivasi agar manusia mempertahankan dan meningkatkan ibadah selagi masih ada kesempatan.

Sebagai mukmin kita meyakini bahwa Lailatul Qadar itu benar adanya. Bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an di malam qadar, dan bahwa pada Lailatul Qadar Allah melimpahkan pahala dan kemuliaan bagi hamba-Nya yang beribadah. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Mari meraih kemuliaan di bulan Ramadan selagi kesempatan itu masih ada.

Jika ‘memperoleh’ Lailatul Qadar, semoga ibadah kita mendapatkan pahala berlipat ganda. Jika kita tidak memperoleh Lailatul Qadar, Allah tidak akan menyia-nyiakan ibadah hamba-Nya. Lailatul Qadar tidak akan bermakna apa-apa jika manusia tidak beribadah di dalamnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search