Lailatul Qadar

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Lailatul Qadar adalah satu malam yang bahkan Allah ﷻ sendiri bertanya seolah menantang kita untuk merenungi, “Tahukah kamu, apa itu Lailatul Qadar?”

Inilah tafsir mendalam surah Al-Qadar menurut Imam Ibnu Asyur dalam Tahrir wal Tanwir. Ilmu yang selama ini tersembunyi di balik lima ayat yang sering kita baca, tapi mungkin belum sepenuhnya kita pahami.

  1. Al-Qur’an Bukan Kitab Biasa

Surah Al-Qadar dibuka dengan pernyataan yang bukan sekadar informasi, melainkan sebuah penegasan agung:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) ini pada Malam Lailatul Qadar.”

Imam Ibnu Asyur mencatat tiga keistimewaan yang tersimpan hanya dalam ayat pertama ini.

Pertama, surat ini dibuka dengan kata إِنَّ (sesungguhnya) yang disusul dengan susunan kalimat kerja. sebuah pola dalam bahasa Arab yang membawa muatan penegasan berlapis. Maknanya adalah bahwa Al-Qur’an ini datang dari Allah Ta’ala, bukan dari manusia mana pun.

Kedua, proses penurunannya disandarkan langsung kepada Allah ﷻ, “Kami yang menurunkannya”. Artinya, ini bukan sekadar cara bertutur. Ini isyarat bahwa apa yang turun adalah perkara besar dan mulia yang hanya layak bersumber dari Zat Yang Mahatinggi.

Ketiga, Al-Qur’an ditakdirkan turun pada malam yang agung dan terpilih. Dalam tradisi kemuliaan, hal-hal besar selalu ditempatkan pada momentum yang besar dan mulia pula. Maka, Allah ﷻ tidak menurunkan wahyu terakhir-Nya sembarangan. Dia memilih malam terbaik dalam kalender semesta.

  1. Nama yang Membuat Penasaran

Mengapa malam itu disebut Lailatul Qadar, Malam Kemuliaan? Al-Qadar bermakna al-syaraf (kemuliaan) dan al-fadhl (kelebihan). Ini bukan nama yang lazim dikenal sebelumnya. Ia adalah nama baru. Ini nama yang asing di telinga saat pertama kali mendengarnya. Justru itulah tujuannya: menanamkan rasa ingin tahu yang mendalam.

Maka Allah ﷻ segera melanjutkan dengan ayat kedua yang berbentuk pertanyaan retoris:

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ

“Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?”

Dalam bahasa Arab, ungkapan seperti ini digunakan untuk menunjukkan betapa besarnya sesuatu yang hendak dibicarakan yang sulit diungkap dengan kata-kata biasa. Lailatul Qadar menyimpan seribu rahasia dalam satu malam. Kebaikannya tidak berbatas. Itulah mengapa Allah ﷻ mengulang namanya secara eksplisit pada ayat kedua bukan sekadar mengisyaratkan, tetapi juga menegaskan ulang dengan penuh kesungguhan.

  1. Seribu Bulan: Hadiah untuk Umat yang Usianya Pendek

Lalu datanglah ayat ketiga yang paling sering kita kutip:

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam al-Qadar lebih baik daripada seribu bulan.”

Tapi apa makna “lebih baik” di sini? Sejatinya, keunggulan Lailatul Qadar bukan soal durasi waktu yang panjang atau pendek, bukan pula tentang peristiwa luar biasa yang akan terjadi. Yang dimaksud adalah gandaan kelebihan dan kebaikan yang tercurah malam itu meliputi seluruh amal yang dikerjakan, kemustajaban doa dan keberkatan yang mengalir untuk umat.

Ada riwayat menarik dalam Al-Muwaththa’ Imam Malik bahwa kepada Rasulullah ﷺ pernah diperlihatkan usia umat-umat terdahulu. Beliau mendapati usia umat Islam jauh lebih pendek dibanding umat-umat sebelumnya  yang berarti lebih sedikit kesempatan beramal.

Maka, sebagai bentuk kasih sayang yang tidak tertandingi, Allah ﷻ menganugerahkan Lailatul Qadar satu malam yang jika diisi dengan penuh keikhlasan, nilainya melampaui lebih dari 83 tahun ibadah.

Ini bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa Allah ﷻ tidak pernah berlaku tidak adil kepada hamba-hamba-Nya.

  1. Malam Yang Penuh Kunjungan

Ayat keempat menyingkap rahasia lain:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, karena membawa segala perkara.”

Kata تَنَزَّلُ dalam ayat ini menggunakan bentuk kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang terus-menerus dan berulang. Artinya, para malaikat tidak turun sekali lalu pergi. Mereka silih berganti turun sepanjang malam, membawakan rahmat, kebaikan, dan kedamaian kepada setiap hamba yang terjaga di malam itu.

Bayangkan: sementara kita beribadah dalam keheningan malam, langit di atas kita dipenuhi oleh para malaikat yang turun silih berganti membawa berkah khusus atas izin Allah ﷻ.

  1. Sejahtera Hingga Fajar: Undangan untuk Merayakan

Surah ini ditutup dengan ayat yang singkat namun sarat makna:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!”

Allah ﷻ sengaja memberitahu batas waktu Lailatul Qadar — hingga terbit fajar — sebagai dorongan bagi kaum Muslim untuk mengoptimalkan ibadah sepanjang waktu itu berlangsung.

Waktunya tidak lama. Setiap menitnya berharga. Malam itu bukan sekadar malam biasa. Ia adalah perayaan turunnya Al-Qur’an yang perlu kita “raih” dengan sepenuh hati.

  1. Satu Malam, Satu Kesempatan

Keindahan surah Al-Qadar juga tercermin dalam keindahan bahasanya. Nama Lailatul Qadar disebut sebanyak tiga kali dalam lima ayat yang singkat. Inilah sebuah pengulangan yang bukan kebetulan, melainkan penekanan bertingkat atas betapa agung dan nyatanya malam ini.

Pada penghujung Ramadan ini, ada satu doa yang layak kita panjatkan setiap hari:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَان وَبَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ

“Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Ramadan dan sampaikan kami pada malam al-Qadar.”

Karena Lailatul Qadar bukan hanya tentang malam itu sendiri. Ia tentang apakah kita layak dan apakah kita cukup bersungguh-sungguh untuk menjadi hamba yang mendapatkan Lailatul Qadar. || disarikan dari Tafsir Tahrir wat Tanwir, karya Imam Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur.

 

Tinggalkan Balasan

Search