Langkah Kecil, Dampak Besar: Kisah dari Komunitas Aisyiyah dan Muhammadiyah

*) Oleh : Hening Parlan,
Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah dan Wakil Ketua LLH PB Aisyiyah
www.majelistabligh.id -

Tahun 2020, saat dunia berada dalam kepungan pandemi, saya menyampaikan teori ABCD kepada para ibu-ibu LLH Pimpinan Pusat  (PP) Aisyiyah dalam sebuah pertemuan daring.

Pertemuan itu menjadi titik mula proses belajar bersama kami tentang pendekatan pembangunan berbasis aset komunitas.

Teori ABCD—Asset-Based Community Development—bukanlah teori tinggi yang penuh istilah rumit dan hanya bisa dipahami oleh akademisi.

Justru sebaliknya, teori ini membumi, sederhana, dan bisa langsung diterapkan di tengah masyarakat.

Saya mengenal pendekatan ini dari Inspirit, sebuah lembaga yang dipimpin oleh Mas Dani Moenggoro.

Dalam ABCD, komunitas dilihat bukan sebagai objek bantuan, tetapi sebagai pusat kekuatan, tempat di mana potensi sejati berasal.

Pada masa itu, saat masker dan cuci tangan menjadi kebiasaan harian, kami duduk bersama secara daring, menganalisis diri dan komunitas.

Kami mencatat satu per satu kekuatan yang ada, kemudian merancang langkah-langkah yang bisa dilakukan bersama. Kami menetapkan dua prinsip dasar dalam bergerak: gembira dan berdampak.

Kami sadar, para ibu Aisyiyah adalah perempuan-perempuan sibuk. Mereka adalah pegawai kantor, dosen, guru, pengusaha UMKM, sekaligus kader organisasi yang memikul banyak amanah.

Bila semua aktivitas dijalankan tanpa kegembiraan, maka akan menjadi beban. Padahal kami tidak ingin pelayanan di Aisyiyah menjadi beban. Kegembiraan membuat langkah-langkah kecil terasa ringan dan menguatkan ikatan antaranggota.

Yang kedua, kami ingin berdampak. Kami tidak ingin kegiatan hanya berhenti di ruang rapat, di dokumen notulen, atau di layar Zoom.

Kami ingin langkah-langkah kecil yang kami buat benar-benar menyentuh kehidupan warga, membawa perubahan nyata, dan menjadi amal jariyah yang mengalir terus.

Dari urusan pengelolaan sampah rumah tangga, kebun kolektif, hingga warung sedekah, semua kami niatkan untuk menghadirkan maslahat.

Saya percaya, kekuatan sejati ada pada komunitas itu sendiri. Para ibu pengajian yang menyisihkan Rp 2.000 setiap pagi untuk sedekah subuh, para bapak yang dengan sabar mengurusi masjid, para tetangga yang saling membantu saat sakit atau kekurangan, mereka semua adalah kekayaan tak ternilai yang sering luput dari perhatian.

Saya menyebut mereka sebagai profesor-profesor komunitas. Mereka tidak duduk di ruang seminar, tetapi berpikir keras tentang kehidupan: bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga, menyemarakkan kegiatan ranting, menjaga keberlangsungan majelis taklim, dan membangun solidaritas sosial di tengah keterbatasan.

Lalu, bagaimana agar gerakan ini berdampak nyata? Di sinilah keajaiban dari langkah kecil yang konsisten.

Dana urunan kecil, tenaga yang dicurahkan dengan tulus, kerudung yang lepek karena berkeliling kampung, semua itu adalah bahan bakar gerakan yang mengubah lingkungan.

Mereka menanam cabai di polibag, mendirikan bank sampah sederhana, membagikan sayur kepada tetangga yang kesulitan, membuka warung sedekah, hingga menjaga AUM agar tetap bisa membayar listrik di tengah krisis ekonomi pandemi.

Small is beautiful bukan slogan, tapi kenyataan yang kami saksikan sendiri setiap hari.

***

Membaca buku Small is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered karya E.F. Schumacher, saya merasa seperti menemukan cermin dari jalan yang telah ditempuh Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Schumacher menolak pandangan bahwa yang besar selalu lebih baik. Dia mengajarkan bahwa solusi kecil, lokal, sederhana, dan manusiawi adalah kekuatan sejati yang menjaga martabat manusia dan kelestarian bumi.

Dalam bukunya, Schumacher menekankan pentingnya teknologi tepat guna dan ekonomi berbasis komunitas sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Bukankah ini juga yang dilakukan ibu-ibu Aisyiyah dan kader-kader Muhammadiyah di berbagai wilayah?

Ambil contoh gerakan Green Aisyiyah. Di banyak daerah, Green Aisyiyah memulai gerakan menanam pohon di halaman masjid dan sekolah, membangun kebun sayur di lahan sempit, membuat eco-brick dari sampah plastik rumah tangga, hingga mengedukasi masyarakat tentang daur ulang minyak jelantah menjadi sabun.

Mereka tidak menunggu proyek besar, tidak menunggu anggaran dari pusat. Mereka memulai dengan langkah kecil, melibatkan jamaah, dan membangun jaringan lintas komunitas.

Di Ponorogo, ibu-ibu membuat program Sedekah Sayur dari kebun kolektif untuk keluarga dhuafa.

Di Yogyakarta, anak-anak TPA diajak memilah sampah, mendaur ulang plastik menjadi pot tanaman, dan membawa botol minum sendiri.

Di daerah rawan bencana, Green Aisyiyah mendorong pembuatan sumur resapan sederhana sebagai ikhtiar menjaga air bersih dan mencegah banjir.

Di Magelang, ranting Muhammadiyah mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri.

Di Masjid Muharam, Brajan Bantul, energi surya menjadi sumber penerangan masjid. Masih banyak lagi langkah-langkah sunyi yang tidak terpublikasi, namun sangat berarti.

Semua kegiatan ini mungkin tampak kecil, lokal, bahkan sederhana. Tapi seperti yang dikatakan Schumacher, “Small is beautiful.”

Karena dalam hal-hal kecil terdapat keterhubungan, keberlanjutan, dan keadilan ekologis. Di situlah letak keindahan dan kekuatannya.

Lebih jauh lagi, langkah-langkah kecil itu adalah cara untuk mengembalikan martabat lingkungan. Di berbagai wilayah, gerakan bank sampah ranting Aisyiyah dan Muhammadiyah telah berhasil mengurangi ratusan kilogram sampah setiap bulannya.

Bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tapi juga soal pemberdayaan: para pemulung dilibatkan, ibu-ibu rumah tangga diberdayakan, dan hasilnya bisa digunakan untuk biaya sekolah atau kebutuhan dapur.

Di beberapa tempat, Aisyiyah bekerja sama dengan mahasiswa Muhammadiyah membangun urban farming sederhana dengan teknologi irigasi tetes dari botol bekas.

Di tempat lain, ibu-ibu membuat eco-enzyme dari kulit buah untuk menggantikan pembersih kimia. Ini bukan kegiatan yang heboh di media sosial, tapi merupakan bentuk nyata dari perlawanan terhadap kerusakan lingkungan dan krisis iklim.

***

Schumacher mengajarkan bahwa dalam ekonomi dan pembangunan, hal-hal yang kecil dan sesuai kebutuhan adalah jalan terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia dan bumi.

Komunitas-komunitas kami telah membuktikan bahwa hal itu bukan utopia. Sedekah subuh, kebun kolektif, bank sampah, warung sedekah, penanaman pohon satu per satu—semuanya lahir dari cinta dan keinginan untuk menghadirkan perubahan.

Teori ABCD yang kami jalankan bersama ibu-ibu Aisyiyah bukan sekadar metode, tapi juga filosofi hidup: menghargai potensi yang ada, memberdayakan yang dekat, dan tidak bergantung pada bantuan luar untuk mulai bergerak.

Dengan kegembiraan dan semangat berdampak, kami menghidupkan masjid, sekolah, dan kampung. Semua menjadi ruang yang ramah bagi bumi, perempuan, anak-anak, dan masa depan.

Karena itu, saat Anda melihat ibu-ibu Aisyiyah atau bapak-bapak Muhammadiyah mengangkut botol plastik dengan motor, memegang bibit cabai untuk dibagikan, atau mencatat hasil penjualan sampah untuk sedekah pendidikan—ingatlah satu hal: mereka sedang menjalankan filosofi “Small is Beautiful” dengan iman, ketekunan, dan cinta yang membumi.

Tugas kita adalah mendokumentasikan, mendukung, dan memperluas gerakan ini, agar langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama bisa menjadi kekuatan besar untuk masa depan bumi dan generasi kita.

Karena langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, dengan hati gembira, dan niat mulia—adalah kekuatan yang tak terkalahkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search