Langkah Tepat, PWM Jatim Beri Apresiasi Media Internal

Unsur PW Muhammadiyah Jatim memberikan apresiasi pada media. (nidlom)
*) Oleh : Chusnun Hadi
editor majelistaligh.id
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim mengapresiasi media internal yang dikelola oleh Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) di bawah Pimpinan Wilayah Muhammdiyah (PWM) Jatim. Sebab di era digital seperti sekarang ini, jika media tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi pertarungan informasi di dunia maya. Kebaikan harus memenangkan pertarungan tersebut.

Apresiasi itu dilakukan dengan cara memberikan ruang yang seluas-luasnya agar media internal bisa semakin berkembang sesuai dengan karakter UPP yang bersangkutan. Kolaborasi antar media internal sangat penting sebagai dakwah bersama lewat dunia digital. Dan tak kalah pentingnya, memberikan anggaran yang cukup untuk pengembangan media.

Kesadaran ini memang sangat penting, apalagi saat ini, dunia telah berada di era digital, sehingga mau-tidak mau, suka-tidak suka, warga dunia harus menyebur di dalam “lautan” digital. Minimnya kesadaran tentang konsumsi digital, dibutuhkan upaya untuk meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya media.

Menurut pendapat W. James Potter dalam esainya yang berjudul “The State of Media Literacy”, media secara konsisten memengaruhi penggunanya dari berbagai aspek: kognitif, perilaku, emosi, dan fisiologis.

Literasi media berdampak pada pilihan bagaimana kita memahami peristiwa dunia, serta keputusan yang kita buat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kemampuan untuk bersikap kritis terhadap suatu informasi, pengguna media menjadi rentan terhadap manipulasi oleh misinformasi, propaganda, dan eksploitasi oleh pihak berkepentingan.

Desakan untuk meningkatkan literasi media tidak hanya berkaitan dengan persoalan edukasi, tetapi juga berhubungan dengan masalah demokrasi, budaya, dan kemampuan kita dalam membuat keputusan yang tepat di dunia yang semakin kompleks.

“Terdapat konsensus bahwa pengaruh media yang lemah dan halus sekalipun penting untuk dipertimbangkan, mengingat sifat pengaruh media yang menyebar luas dalam budaya, serta tingginya tingkat paparan orang terhadap berbagai bentuk media,” tambah W. James Potter, dalam esaynya.

Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan bahwa penyebaran hoaks di masyarakat masih cukup tinggi. Tercatat, pada tahun 2021, sekitar 11,9 persen responden mengaku pernah menyebarkan informasi palsu.

Selain itu, antara 30 persen hingga hampir 60 persen warga Indonesia terpapar hoaks saat menggunakan internet untuk mengakses informasi atau berkomunikasi. Namun, hanya sekitar 21 persen hingga 36 persen dari mereka yang mampu mengidentifikasi informasi palsu tersebut.

Keberadaan hoaks di media digital semakin memprihatinkan. Hal ini diperburuk dengan adanya mesin pencari dan kecerdasan buatan (AI) yang memberikan jawaban instan. Akibat dari fenomena ini, kebanyakan pengguna media menerima informasi secara mentah tanpa menganalisis informasi yang mereka peroleh terlebih dahulu.

Media Internal Berkemajuan

Apresiasi dan perhatian tinggi PWM Jatim terhadap media internal memang sangat tepat. Kesadaran akan pentingnya membangun media yang dipecaya oleh masyarakat, tidak serta merta hadir secara instan. Tetapi dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk membangun pikiran dan kepercayaan masyarakat terhadap media yang diusung.

Karena itu, dibutuhkan media internal yang berkemajuan, mengikuti zaman, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai media yang bernuansa dakwah. Melalui media, Muhammadiyah yakin akan semakin meningkatkan simpati dan empati yang tinggi pada pergerakan persyarikatan.

Lihat saja, bagaimana peran Muhammadiyah dalam membantu saudara-saudara sebangsa yang sedang mengalami musibah di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Semua unsur mulai dari organisasi induk, Pergruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, RS Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah yang lain turun membantu saudara sebangsa yang terkena musibah. Kotak Masjid pun untuk membantu bencana. Tanpa media sumua itu tidak mungkin diketahui oleh masyarakat umum.

Karena itu, sekali lagi, sangat tepat jika PWM Jatim memberikan apresiasi dan perhatian khusus pada media, khususnya media internal. Karena pada dasarnya media internal adalah senjata Muhammadiyah untuk memberikan informasi pada masyarakat tentang apa saja amal usaha yang dilakukan organisasi ini. Dan yang tak kalah pentingnya, media internal menjadi tameng utama melawan hoaks tentang persyarikatan ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Search