Lansia Tangguh, Semangat Tak Luntur di Tengah Terik: Kisah Haru di Tengah Lontar Jumrah Aqabah

www.majelistabligh.id -

Di tengah suhu yang membakar kulit dan padatnya arus jemaah di Jamarat, semangat jemaah lansia Indonesia tetap menyala. Pagi yang cerah di Jumat, 10 Zulhijah 1446 H (6 Juni 2025), menjadi saksi keteguhan hati para tamu Allah dalam menuntaskan salah satu rukun ibadah haji, yakni melempar jumrah Aqabah.

Sejak subuh, lautan manusia mulai bergerak menuju kompleks Jamarat di Mina. Terik yang menyentuh angka 38°C tidak menyurutkan langkah mereka. Bahkan, para jemaah lansia tetap bersikeras untuk ikut melontar jumrah sendiri. Di antara mereka, tampak sosok Atma Dulkarim Samadi (75), jemaah asal Pandeglang, Banten. Meski kakinya mulai lemah, semangatnya untuk menuntaskan rangkaian ibadah haji begitu kuat.

“Saya ketinggalan dari rombongan. Istri sudah duluan bareng rombongan,” ujar Atma dengan napas tersengal saat ditemui petugas di Jamarat.

Atma memulai perjalanannya dari Muzdalifah selepas subuh. Ia tiba di Jamarat sekitar pukul 09.00 WAS. Namun, langkahnya terhenti selepas lempar jumrah. Tanpa kursi roda, tanpa rombongan, ia tetap berjuang berjalan kaki sejauh enam kilometer ke arah Mina.

Di tengah keterbatasan, bantuan datang dari para petugas haji Indonesia. Sambil tertatih, Atma dipapah dan dibantu menuju tenda di Mina. Setiap beberapa puluh langkah, ia berhenti untuk sekadar mengatur napas dan minum. Suhu siang itu melonjak hingga 43°C. Petugas pun berbagi air dan makanan sambil menyemangatinya. Di setiap perhentian, ketulusan dan doa menyertai.

Kisah haru tak hanya datang dari Atma. Sudi Wiryo, jemaah lansia asal Embarkasi Solo, mengalami nasib serupa. Ia pun memaksakan diri menuju Jamarat selepas subuh dari Muzdalifah, belum sempat makan, dan terpisah dari rombongan. Dengan langkah yang sudah gemetar, ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju Mina usai lontar jumrah Aqabah.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sebenarnya telah mengimbau agar jemaah lansia menggunakan skema murur—melewati Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan—demi menjaga kondisi fisik mereka. Namun, keinginan untuk menjalankan rangkaian ibadah haji secara sempurna membuat sebagian jemaah tetap ingin bermalam dan mengikuti proses lengkap.

Beruntung, sepanjang perjalanan ke Mina, para jemaah yang terpisah mulai menemukan kembali rombongannya. Sebanyak 11 jemaah yang sempat sendiri akhirnya kembali berkumpul dengan rombongan mereka. Sebuah kebahagiaan sederhana namun penuh makna di tengah padatnya Fase Armuzna.

Lansia Tangguh, Semangat Tak Luntur di Tengah Terik: Kisah Haru di Tengah Lontar Jumrah Aqabah
Tugu Jamarat Aqabah atau Jamarat tugu ketiga. foto: afifun nidlom.majelistabligh.id

Kepala Satuan Operasional Armuzna, Harun Ar Rasyid, memastikan bahwa seluruh jemaah haji Indonesia telah meninggalkan Muzdalifah pada Jumat pagi.

“Pagi ini, tepat pukul 09.40 WAS, Muzdalifah kami nyatakan clear. Seluruh jemaah telah terdorong menuju Mina,” ujar Harun.

Sebelumnya, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, juga menyampaikan bahwa proses evakuasi jemaah dari Arafah telah selesai seluruhnya pada pukul 03.30 WAS. Dengan selesainya tahapan ini, jemaah bersiap menjalani lontar tiga jumrah di hari-hari Tasyriq—Ula, Wustha, dan Aqabah.

Demi menjaga keselamatan dan kelancaran ibadah, PPIH Arab Saudi telah merancang skema murur dan tanazul. Murur diperuntukkan bagi jemaah rentan yang bisa langsung menuju Mina dari Arafah tanpa bermalam di Muzdalifah. Sementara tanazul memungkinkan jemaah bermalam di hotel, bukan di tenda Mina, agar lebih mudah dijangkau dan aman.

Namun demikian, skema tanazul pada akhirnya dibatalkan menjelang puncak haji karena pertimbangan keamanan dan kesiapan fasilitas.

“Jemaah haji Indonesia seluruhnya sudah diberangkatkan sesuai jadwal. Semoga Allah memberkahi perjuangan para jemaah dan menjadikannya sebagai haji yang mabrur,” ujar Hilman.

PPIH Arab Saudi juga telah mengatur jadwal dan sesi pelaksanaan lontar jumrah agar menghindari waktu-waktu padat dan berisiko. Jemaah diimbau untuk tidak melontar pada waktu berikut:

10 Zulhijah: pukul 04.00–10.00 WAS

11 Zulhijah: pukul 11.00–14.00 WAS

12 Zulhijah: pukul 11.00–14.00 WAS

Jadwal sesi juga dibagi agar jemaah bisa menyesuaikan waktu dengan kondisi fisik mereka.

Perjalanan melempar jumrah bukan sekadar ritual simbolik. Ia adalah refleksi dari perjuangan melawan hawa nafsu, keteguhan iman, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian. Kisah Atma dan Sudi, serta jemaah lansia lainnya, mengajarkan kepada kita arti dari ketabahan dan kesungguhan dalam beribadah.

Ketika tubuh lemah, tapi semangat tetap menyala, di situlah letak kemuliaan haji yang sejati.

Semoga Allah menerima amal ibadah seluruh jemaah haji Indonesia dan menganugerahkan mereka haji yang mabrur. Aamiin. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search