*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Dalam Islam, mengolok-olok orang lain adalah perbuatan yang dilarang dan tercela. Islam melarang suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi, yang diolok-olok itu lebih baik daripada yang mengolok-olok.
Sebagaimana firman Allah,
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS Al-Hujurat: 11)
Surat Al-Hujurat ayat 11 secara jelas melarang perbuatan mengolok-olok, baik individu maupun kelompok. Mengolok-olok sering berarti merendahkan orang lain, yang merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Perbuatan mengolok-olok dapat memicu pertengkaran dan permusuhan antarindividu atau kelompok. Mengolok-olok dapat menyakiti hati orang lain dan membuat mereka merasa rendah diri. Perbuatan ini juga bisa menjadi cermin kesombongan dan rasa lebih tinggi daripada orang lain.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengolok-olok orang lain, bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan atau pernah menyakitinya.
“Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722, Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih)
Penting untuk diingat, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan menghormati orang lain adalah sikap yang terpuji. Lebih baik menebar kebaikan dan kasih sayang daripada mencela atau mengolok-olok.
Sebagai gantinya, mari kita menjaga lisan dan menghindari perkataan yang menyakitkan. Dan menunjukkan rasa hormat dan empati kepada orang lain. Serta mencari kebaikan dalam diri orang lain dan menghargai perbedaan.
Semoga bermanfaat. (*)
