Layanan kesehatan yang dikelola oleh Muhammadiyah harus berlandaskan nilai-nilai utama yang mencerminkan misi kemanusiaan dan dakwah persyarikatan. Spirit Kasih sayang menjadi ruh yang dalam sejarahnya dikenal dengan istilah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, dalam Peresmian Gedung Mas Mansur RS Muhammadiyah Tuban.
Menurut Agus Taufiqurrahman, ada lima ciri layanan kesehatan Muhammadiyah yang harus dipegang teguh. Pertama, nilai kasih sayang sebagai fondasi utama pelayanan. Spirit ini menjadi ruh dari sejarah berdirinya layanan kesehatan Muhammadiyah yang dikenal dengan istilah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).
“Spiritnya adalah kasih sayang dan menolong, sebagai pengejawantahan nilai-nilai Al-Ma’un,” kata Agus.
Kedua, adalah keberpihakan kepada kaum dhuafa. Dalam praktiknya, seluruh rumah sakit Muhammadiyah dituntut untuk memberikan pelayanan tanpa diskriminasi, terutama kepada masyarakat miskin. “Di rumah sakit Muhammadiyah tidak boleh berlaku orang miskin dilarang sakit. Justru ketika orang miskin itulah yang menjadi spirit kita untuk menolong,” ditegaskan.
Disebutkan pula bahwa prinsip ini telah menjadi bagian dari sejarah panjang Muhammadiyah, termasuk sejak pengembangan layanan kesehatan awal di Surabaya. Spirit pelayanan untuk kaum lemah terus dijaga hingga kini di berbagai rumah sakit Muhammadiyah.
Ketiga, adalah keunggulan dalam pelayanan. Nilai ini berangkat dari cita-cita pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang menginginkan adanya layanan kesehatan modern dan berkualitas tinggi.
Gagasan itu kemudian dipertegas oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bahwa Muhammadiyah tidak boleh menghadirkan layanan yang bersifat “asal-asalan”. Keunggulan menjadi prinsip utama dalam setiap pengembangan layanan kesehatan.
“Muhammadiyah tidak mau kalau semuanya itu hanya abal-abal, karena harus ada prinsip keunggulan,” tegasnya.
Keempat, adalah penegakan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek pelayanan kesehatan. Hal ini menjadikan rumah sakit Muhammadiyah tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga memiliki karakter spiritual yang kuat.
Sedangkan ciri kelima, adalah inklusivitas dalam pelayanan. Muhammadiyah menegaskan bahwa layanan kesehatan harus terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun status sosial. “Siapapun akan kita tolong, baik Eropa, Jawa, Cina, Arab, atau pribumi, asalkan benar-benar membutuhkan,” ungkapnya. (*/tim)
