Pernah nggak kamu duduk di pinggir lapangan sore-sore, lalu melihat anak-anak mengejar layang-layang yang terbang bebas di langit?
Coba sesekali ke batas Kota Surabaya, di sekitar Pondok Candra. Angin sore membawa cerita yang indah. Anak-anak berlarian, tertawa riang, bahkan tak jarang terjatuh lalu bangkit lagi tanpa banyak drama.
Layang-layang yang mereka kejar seakan-akan mewakili harapan mereka—terbang tinggi, bebas, dan penuh warna.
Tapi, sesungguhnya, permainan ini bukan cuma soal benang dan bambu. Ini adalah pelajaran hidup yang dikemas dalam keriangan masa kecil.
Kalau dilihat dari sisi psikologi, layang-layang mengajarkan banyak hal: kontrol diri, fokus, hingga resiliensi. Saat anak mencoba menjaga agar layangannya tetap tinggi, mereka sedang belajar mengatur emosi dan mengendalikan impuls.
Ketika layangannya putus, lalu tetap bisa tersenyum, itulah cikal bakal ketangguhan mental. Ini bukan pelajaran yang bisa didapat dari layar ponsel atau game daring.
Ini pelatihan emosi yang nyata, alami, dan menyenangkan. Psikolog menyebutnya sebagai penguatan sense of mastery—perasaan “aku bisa”, yang akan berguna kelak ketika mereka dewasa dan menghadapi tantangan hidup.
Interaksi sosial juga tumbuh di sini. Anak-anak belajar saling bantu saat benang kusut, berdiskusi bentuk layangan terbaik, hingga berebut layang putus dengan penuh semangat.
Di situlah berkembang empati, toleransi, dan semangat kompetisi yang sehat. Teori perkembangan sosial menyebutkan bahwa permainan kelompok seperti ini memperkuat identitas sosial anak.
Mereka belajar menang tanpa sombong, kalah tanpa dendam. Pelajaran hidup yang barangkali sering kita lupakan saat dewasa.
Islam sendiri tidak melarang permainan selama tidak melalaikan ibadah. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu.” (HR. Bukhari).
Bermain layang-layang bisa jadi bentuk olahraga ringan, interaksi sosial, dan sarana menjaga kesehatan mental anak.
Selama dijaga adab dan waktunya, permainan ini justru bisa jadi ibadah: menjaga hak tubuh, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan karakter.
Jadi, jangan anggap remeh permainan tradisional ini. Saat anak-anak membuat layangan sendiri, mengukur dan menempel, lalu menerbangkannya—mereka sedang belajar percaya diri.
Saat mereka tertawa sambil mengejar layangan putus, mereka sebenarnya sedang mengejar masa depan yang lebih tangguh. Mari kita hidupkan kembali tradisi ini.
Bukan hanya agar anak-anak bisa bersenang-senang, tapi agar mereka tumbuh sebagai manusia utuh—yang tahu cara terbang tinggi tanpa melupakan tanah tempat berpijak. (*)
