Kreativitas dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo. Melalui Kantor Layanan LAZISMU (KLL) Sepanjang, mereka menggagas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) baru. Sebuah program inspiratif bernama LAZISMU Preloved, sebuah toko yang menjual pakaian bekas layak pakai dari para donatur untuk tujuan kemanusiaan.
Program ini lahir dari ide sederhana namun berdampak besar: mengelola barang-barang yang sudah tidak terpakai agar memiliki nilai manfaat baru. Pakaian yang disumbangkan oleh masyarakat tidak langsung dipasarkan. Tim LAZISMU Preloved terlebih dahulu melakukan proses sortir secara cermat. Memastikan kualitas dan kelayakan setiap item. Setelah itu, pakaian dicuci melalui proses laundry hingga bersih dan rapi, kemudian dikemas dengan baik agar tampil menarik dan pantas jual.
Hasilnya, produk-produk yang sebelumnya hanya tersimpan di lemari kini berubah menjadi barang berkualitas dengan harga terjangkau. Konsep ini tidak hanya membantu masyarakat memperoleh pakaian bagus dengan harga murah, tetapi juga menjadi sarana berbagi yang berkelanjutan. Seluruh hasil penjualan dikelola oleh LAZISMU dan ditasyarufkan kepada mereka yang berhak menerima, seperti kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya dari drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, yang berkesempatan mengunjungi langsung toko LAZISMU Preloved.
Dalam kunjungannya, Kyai Zainul tidak hanya melihat-lihat koleksi yang tersedia, tetapi juga memberikan dukungan moral serta turut mempromosikan gerakan ekonomi kreatif berbasis filantropi tersebut. Ia menilai program ini sebagai langkah cerdas dalam memadukan semangat kewirausahaan dengan nilai-nilai kepedulian sosial.
“LAZISMU Preloved bukan sekadar toko baju bekas, melainkan bagian dari gerakan dakwah sosial dan pemberdayaan ekonomi umat. Dengan membeli produk di toko ini, masyarakat secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam program-program sosial LAZISMU,” kata Kyai Zainul.
Ia menambahkan, LAZISMU Preloved tidak hanya mengandalkan penjualan secara offline melalui toko fisik. Mereka juga merambah pasar digital dengan sistem penjualan online. Produk ditampilkan dalam katalog yang detail, lengkap dengan informasi ukuran, kondisi, dan harga. Langkah ini menunjukkan keseriusan pengelolaan sekaligus adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pola belanja masyarakat saat ini.
Gerakan “Dari barang bekas menjadi berkah” menjadi semangat utama LAZISMU Preloved. Di tengah budaya konsumtif, program ini mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan barang. Pakaian yang sudah tidak digunakan lagi dapat disalurkan melalui KLL Sepanjang agar kembali memiliki nilai guna dan nilai pahala.
Lebih jauh, Kyai Zainul menegaskan, bahwa konsep ini berpotensi direplikasi di berbagai daerah. Kader Muhammadiyah di wilayah lain dapat mengembangkan program serupa, seperti “Magetan Preloved”, “Sumenep Preloved”, atau “Banyuwangi Preloved”. Tidak menutup kemungkinan gerakan ini menjadi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) baru yang inovatif, mandiri, dan berdampak luas bagi masyarakat.
LAZISMU Preloved membuktikan bahwa kepedulian sosial dapat dikemas secara kreatif dan profesional. Sebuah langkah nyata yang menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik, barang sederhana pun dapat menjadi jembatan kebaikan bagi banyak orang. (nun)
