Lebaran Tanpa Bising Menuju Hati yang Bening

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Lebaran selalu datang seperti embun yang turun di ujung malam. Suasananya menyejukkan, menghapus letih, dan menghadirkan ruang baru bagi hati yang lama berdebu. Di hari kemenangan itu, orang-orang saling berkunjung, tangan-tangan bersalaman, dan maaf mengalir lebih jernih daripada kata-kata yang biasa kita ucapkan.

Namun, di tengah kehangatan silaturahmi dan aroma hidangan yang memenuhi rumah, ada satu kebiasaan yang kerap ikut menyala, yakni membakar petasan dan kembang api.

Bagi sebagian orang, dentuman petasan dianggap bagian dari kemeriahan. Langit yang bercahaya oleh kembang api dipahami sebagai lambang sukacita setelah sebulan berpuasa. Tetapi pertanyaannya, sejak kapan hari kemenangan harus dirayakan dengan ledakan? Mengapa kebiasaan ini tumbuh, dan makna apa yang sebenarnya sedang kita pelihara? Apakah kegembiraan mesti diukur dari suara yang memekakkan telinga dan serpihan kertas yang berserakan di jalan?

Dalam konteks sejarah, kembang api memang bukan tradisi asli ibadah Idulfitri. Ia berasal dari penemuan bubuk mesiu di Tiongkok, lalu menyebar ke berbagai wilayah dunia sebagai alat perayaan, penanda pesta, dan pertunjukan visual. Dalam perjalanan budaya modern, kembang api kemudian menempel pada banyak momen massal, mulai dari tahun baru, pesta rakyat, pernikahan, hingga perayaan keagamaan.

Di Indonesia, kebiasaan menyalakan petasan pada Ramadan dan Lebaran tumbuh lebih sebagai budaya populer daripada ajaran agama. Ia hidup karena kebiasaan diwariskan, bukan karena nilai yang diwajibkan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara tradisi, hiburan, dan makna. Lebaran pada dasarnya adalah momentum kembali kepada fitrah, hati yang bersih, jiwa yang ringan, dan kehidupan yang lebih tertib setelah ditempa puasa. Maka sungguh ironis jika hari yang semestinya ditandai dengan syukur justru diramaikan oleh perilaku mubazir. Uang dibakar dalam arti yang hampir harfiah, dibeli, disulut, meledak, lalu hilang menjadi asap. Sejenak memang terdengar meriah, tetapi setelah itu yang tersisa hanyalah bau mesiu, sampah berserakan, dan kadang-kadang luka yang tidak kecil.

Risiko Celaka

Berbagai peristiwa menunjukkan bahwa petasan dapat berujung petaka. Pada Maret 2026, polisi menangani kasus ledakan petasan rakitan di Ponorogo yang menewaskan seorang remaja. Sebulan sebelumnya, di Grobogan, tiga pemuda dilaporkan terluka akibat ledakan racikan petasan.

Kasus-kasus semacam ini menegaskan bahwa benda yang sering dianggap permainan itu sesungguhnya menyimpan bahaya serius. Bahkan pada Lebaran 2023 lalu, seorang warga di Lombok Tengah mengalami cedera parah di tangan akibat petasan yang macet lalu meledak saat dipegang.

Di sisi lain, aparat keamanan secara konsisten mengingatkan publik tentang bahaya petasan dan kembang api. Menjelang pergantian tahun 2026 lalu misalnya, sejumlah jajaran kepolisian di berbagai daerah mengeluarkan imbauan bahkan larangan penggunaan petasan dan pesta kembang api demi keselamatan masyarakat dan ketertiban umum. Pesannya sederhana, bahwa kemeriahan tidak boleh mengalahkan keselamatan. Logika yang sama sangat relevan untuk Lebaran, ketika lingkungan permukiman padat, anak-anak berlarian, dan suasana ibadah masih berlangsung.

Lalu bagaimana dengan data penjualan? Data ritel nasional yang rinci dan mutakhir tentang penjualan petasan saat Lebaran memang tidak mudah ditemukan secara terbuka. Namun, jejak ekonominya dapat dibaca dari klasifikasi perdagangan dan lalu lintas barang impor yang dicatat BPS dan sistem kepabeanan, yang menunjukkan bahwa produk kembang api dan barang piroteknik merupakan komoditas dagang tersendiri dalam klasifikasi HS 3604, meliputi kembang api, suar sinyal, peluru hujan, sinyal kabut, dan barang-barang piroteknik lainnya.

Meski tanpa angka penjualan yang sempurna, kita bisa melihat dampak yang kasatmata. Setelah malam takbiran atau malam Lebaran, jalanan kerap dipenuhi bekas sumbu, kertas merah, plastik pembungkus, dan serpih tabung petasan. Yang semula disebut kemeriahan berubah menjadi sampah. Kita merayakan kemenangan spiritual, tetapi meninggalkan jejak ekologis yang buruk.

Lebaran seharusnya mengajarkan kecukupan, bukan pemborosan. Dalam semangat puasa, kita telah belajar menahan diri dari yang berlebihan. Maka sungguh elok bila hari raya ditutup dengan kesadaran yang sama, bahwa kebahagiaan tidak selalu harus meledak. Ia bisa hadir dalam suara takbir yang bergema, dalam pelukan ibu yang lama ditunggu, dalam tawa anak-anak yang cukup diberi baju terbaik, atau dalam sepiring ketupat yang dibagi kepada tetangga.

Kemenangan sejati bukanlah yang paling bising, melainkan yang paling bening. Dan di tengah dunia yang semakin gaduh, barangkali kita memang perlu belajar merayakan sesuatu yang suci dengan cara yang lebih hening, lebih hemat, dan lebih bermakna. Karena Lebaran, pada akhirnya bukan soal apa yang menyala di langit, melainkan apa yang hidup kembali di dalam hati. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search