Lelaki tidak bercerita, bukan karena tak punya luka, tapi karena ia memilih jalan yang lebih sunyi: mengadu kepada Ilahi.
Dalam Al-Qur’an, Allah telah menetapkan peran lelaki sebagai pemimpin dan penjaga. Allah berfirman dalam QS. Thaha: 117:
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَـٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ
“Maka Kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.’” (QS. Thaha: 117)
Dalam ayat ini, Allah memperingatkan Adam dan istrinya secara bersamaan (“mengeluarkan kamu berdua”), tetapi ketika menyebut konsekuensi kesulitan (tasyqā), Allah menggunakan kata “kamu (Adam) celaka”. Hal ini menunjukkan bahwa beban kesulitan—seperti mencari nafkah—lebih berat dipikul oleh laki-laki.
Sejak awal, lelaki (dalam hal ini Nabi Adam) dipanggil untuk menjadi pemimpin, pelindung, dan penanggung jawab. Dalam tafsir Rūḥ al-Ma‘ānī dijelaskan:
قَبْلُ: المُرَادُ بِالشَّقَاءِ النَّصَبُ فِي تَحْصِيلِ مَبَادِئِ، المَعَاشِ، وَهُوَ مِنْ وَظَائِفِ الرِّجَالِ
Yang dimaksud dengan ‘kesulitan’ adalah keletihan dalam upaya memperoleh kebutuhan dasar penghidupan, dan itu termasuk tugas utama laki-laki.
Ya, tugas lelaki memang berat, tetapi itu bukan hukuman, melainkan kepercayaan langsung dari Pencipta. Ini adalah kehormatan peran, sebab jalan hidup seorang lelaki akan diwarnai ujian dan tanggung jawab besar.
Dalam ayat lain, Allah juga pasti akan menguji setiap orang yang memiliki iman, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-‘Ankabūt: 2:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabūt: 2)
Setiap lelaki akan diuji. Ujian itu beragam, sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Namun, ujian itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mendekatkan hamba kepada Rabb-nya. Solusi dari ujian bukanlah dengan menceritakan kelemahan pada sembarang telinga, tapi dengan mengangkat tangan dalam munajat, terus menambah keimanan kepada Allah.
Allah menegaskan dalam QS. Al-Fath: 4:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَـٰنًۭا مَّعَ إِيمَـٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًۭا
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)
Dan dalam QS. Ar-Ra‘d: 28, Allah menjanjikan ketenangan:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Nabi Muhammad saw pun memberikan teladan bagaimana bersabar dalam ujian, mengadu hanya kepada Allah, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Beliau bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Ketahuilah, bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2516)
Dalam hadis lain, Nabi bersabda:
مَنْ كَتَمَ شَكْوَاهُ إِلَى اللَّهِ، كَفَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Barang siapa yang menahan (menceritakan) penderitaannya kepada manusia dan hanya mengadu kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Ahmad – sanad hasan)
Maka, ketika lelaki memilih diam, bukan karena ia tak peduli atau tak merasa, tapi karena ia yakin bahwa mengadu kepada Allah adalah sebaik-baik jalan. Ia tahu bahwa ketenangan bukan datang dari cerita yang disebar, melainkan dari doa yang dipanjatkan. Dan solusi bukan dari simpati manusia, tapi dari pertolongan Allah yang Mahakuasa.
“Lelaki tidak bercerita” bukan hanya sebuah slogan. Itu adalah bentuk kepasrahan, penghambaan, dan keyakinan bahwa Allah-lah tempat bergantung segala harap. Di sanalah ketenangan hadir, dan solusi pun tiba.
Diam bukan tanda lemah, tapi tanda kekuatan hati yang memilih jalan tauhid. Mengadu bukan pada dunia, tapi pada Dzat yang menggenggam seluruh semesta. (*)
