Di tengah derap langkah jutaan kaki yang menapaki lantai marmer Masjidil Haram, ada satu langkah kecil namun penuh makna. Langkah itu milik seorang gadis 18 tahun asal Pati Jawa Tengah, Zahratun Uli Nasroh, karib disapa Lina. Ia bukan hanya jemaah haji termuda Indonesia pada musim haji 2025, tapi juga penyimpan kisah cinta dan bakti yang melampaui usia dan waktu.
Lina berangkat bersama ibunya, Husnul Khotimah (46), dalam rombongan Kloter 51 Embarkasi Solo. Di antara lautan manusia yang bersujud di hadapan Ka’bah, Lina membawa lebih dari sekadar niat ibadah. Ia membawa amanah yang diwariskan dengan linangan air mata—wasiat sang ayah yang tak sempat ia tunaikan sendiri.
Ayah Lina mendaftar haji bersama istrinya sejak 2012. Namun, takdir berkata lain. Enam tahun bergulat dengan gagal ginjal membuat harapan itu perlahan memudar. Pada tahun 2020, dalam kondisi yang semakin lemah, sang ayah memanggil Lina dan menyampaikan sebuah pesan yang akan menggema seumur hidupnya.
“Kalau nanti Bapak nggak bisa, kamu saja yang gantiin.”
Kata-kata itu terucap lirih, namun membekas dalam. Kala itu, Lina masih remaja. Tak sepenuhnya memahami beratnya tanggung jawab yang dibebankan padanya. Tapi seiring waktu, kalimat itu menjelma menjadi kompas yang menuntunnya.
“Aku masih berharap waktu itu, Bapak sembuh,” kenang Lina. “Rasanya belum siap. Tapi setelah beliau meninggal, aku tahu, ini jalanku untuk menggenapi keinginan beliau.”
Lina adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya telah menikah dan pernah umrah. Sementara adiknya masih terlalu kecil. Namun bukan karena urutan lahir atau kesempatan, Lina yang dipilih sang ayah. Ia yang paling dekat. Ia yang paling kuat.
“Dari dulu dia yang paling tangguh,” ucap sang ibu, lirih. “Waktu ayahnya sakit, Lina yang paling sering nemenin. Sudah mandiri sejak kecil.”
Sejak kelas 7 MTs, Lina terbiasa tinggal bersama ayahnya saat dirawat di rumah sakit. Ia belajar memahami rasa sakit, menahan tangis di tengah doa, dan menjadi dewasa sebelum waktunya.
Perjalanan haji Lina bukanlah sekadar keberangkatan administratif. Dia menyiapkan diri dengan sepenuh hati. Membawa niat yang bersih dan tulus. Sebuah ibadah yang ia persembahkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk sang ayah yang telah lebih dulu berpulang.
“Ini ibadah besar. Aku ingin semua rukunnya sempurna. Bukan cuma gugur kewajiban, tapi benar-benar ibadah yang khusyuk,” ujarnya saat di di Hotel 217, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025).
Lina menjadi sandaran ibunya selama ibadah di Tanah Suci. Di tengah malam, saat jemaah lain terlelap, mereka menunggu waktu sepi untuk tawaf. Menyempatkan salat tahajud dan membaca Al-Qur’an hingga Subuh. Sebuah keheningan yang sarat doa dan rindu pada sosok yang tak lagi hadir secara fisik, tapi hidup dalam setiap langkah ibadah.
“Seharusnya Bapak yang dampingi Ibu. Tapi sekarang aku yang harus menemani beliau,” kata Lina.
Tak ada pesta kelulusan untuk Lina. Dia tak hadir dalam acara perpisahan sekolah yang digelar pada 19 Mei lalu. Tak ada foto dengan seragam putih abu-abu dan bunga ucapan selamat. Tapi ia membawa pulang sesuatu yang lebih mulia: pengampunan dan keberkahan dari Tanah Suci.
“Aku ingin bisa jaga diri, perbaiki sikap, dan lebih dekat dengan Allah,” harapnya.
Setelah haji, Lina punya cita-cita besar: menjadi seorang polwan. Ia ingin terus mengabdi, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan menjadi pribadi yang tangguh sebagaimana yang ayahnya percayakan padanya.
“Semoga teman-teman seusia aku juga dimampukan Allah untuk bisa umrah dan haji. Meskipun muda, kita juga punya kesempatan untuk jadi tamu Allah.”
Kisah Lina bukan hanya tentang menjadi jemaah termuda. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ayah yang tak sempat mewujudkan impiannya, tentang anak perempuan yang menepati janji, dan tentang ibadah yang ditunaikan dengan sepenuh jiwa.
Langkah Lina kecil, namun jejaknya dalam. Dia telah menapaki jalur suci yang dulu hanya ada dalam doa-doa sang ayah, dan kini telah digenapi dengan air mata, kesabaran, dan keyakinan. (afifun nidlom)
