Mahasiswa PAI UMM Dibekali Ilmu Hospitality, Karakter Pendidik Masa Kini 

Mahasiswa PAI UMM Dibekali Ilmu Hospitality, Karakter Pendidik Masa Kini 
www.majelistabligh.id -

Sikap ramah dan pelayanan prima ternyata tak hanya dibutuhkan di dunia perhotelan. Dunia pendidikan pun memerlukan nilai-nilai hospitality sebagai bagian dari citra sekolah dan kompetensi guru. Hal itu disampaikan langsung oleh Teguh Hadi Saputro, M.A., dosen Bahasa Inggris sekaligus General Manager Hotel Kapal dan My Dormy Hostel, saat memberikan pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), akhir Juni lalu.

Dalam pembekalan tersebut, Teguh menekankan pentingnya membangun sikap melayani sebagai bagian dari karakter tenaga kependidikan. “Sekolah itu lingkungan jasa. Kita melayani siswa, guru, staf, bahkan orang tua. Setiap tindakan kita memengaruhi citra pribadi dan institusi,” tegasnya.

PKL ini rencananya akan dilaksanakan mulai Juli hingga akhir September 2025. Sebanyak 46 mahasiswa akan disebar ke sejumlah lembaga pendidikan, mulai dari SMP hingga SMA, di berbagai kota dan kabupaten.

Hospitality Jadi Karakter Pendidik Masa Kini

Menurut Teguh, pelayanan prima bukan hanya soal keterampilan teknis, tapi mencerminkan sikap hati. Hospitality, kata dia, adalah sikap yang harus tumbuh dari dalam diri setiap calon guru. Kalau attitude-nya baik, maka personal branding akan terbentuk dengan sendirinya.

Dalam dunia pendidikan, pelayanan ramah dan profesional harus ditunjukkan mulai dari kepala sekolah hingga staf pendidik. Hal ini akan memperkuat kepercayaan siswa dan orang tua.

“Kita melayani siswa, guru, staf administrasi, hingga orang tua. Setiap tindakan kita berkontribusi terhadap citra pribadi dan reputasi institusi,” tegasnya

Teguh juga mengajak mahasiswa memahami lima pilar utama layanan prima, yakni:

  1. Penampilan Profesional

  2. Komunikasi Efektif

  3. Sikap Positif

  4. Konsistensi dan Keandalan

  5. Antisipasi dan Empati

Bahkan, dalam sesi pembekalan, mahasiswa diajak untuk melakukan simulasi langsung agar lebih siap menghadapi situasi nyata saat praktik nanti.

Dekan FAI UMM, Prof. Khozin, M.Si., menegaskan bahwa mahasiswa PAI harus dibekali tidak hanya pengetahuan agama, tetapi juga karakter dan kompetensi yang paripurna. Pendidikan menurutnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tapi juga berlangsung dalam ranah nonformal dan informal.

“Mahasiswa PAI harus dipersiapkan sejak dini agar mampu berperan sebagai pendidik di berbagai lini kehidupan—di tengah keluarga, di sekolah atau madrasah, dan di masyarakat luas,” ujar Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal PWM Jawa Timur ini.

Seorang guru PAI juga harus memiliki penguasaan dasar yang kuat terhadap Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebutkan bahwa setidaknya mahasiswa harus memahami kitab Tafsir Jalalain untuk memperkuat kemampuan membaca dan memahami Alquran, serta kitab Bulughul Maram sebagai dasar ilmu fikih. Tiga profil utama yang harus dimiliki mahasiswa PAI adalah memahami ajaran Islam, mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebarkannya melalui dakwah.

“Mahasiswa PAI juga harus mampu meneladani dan mengkloning tokoh-tokoh pendakwah Islam yang mumpuni dan memberi manfaat nyata bagi umat. Guru agama masa kini tidak cukup hanya bisa mengajar. Mereka harus mampu menulis, berceramah, dan memiliki wawasan yang luas,” pungkasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search