Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat resmi tentang penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 Masehi. Keputusan ini didasarkan pada paradigma baru, yaitu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Langkah ini dalam rangka mewujudkan unifikasi kalender Islam guna mengakhiri ketidakpastian penanggalan yang selama ini kerap memicu perbedaan di tengah umat.
Bagi warga persyarikatan, mengikuti maklumat ini adalah bentuk loyalitas dalam menjaga keteraturan barisan organisasi. Sosialisasi yang masif dari tingkat pusat hingga ranting di akar rumput menjadi kunci utama agar tidak terjadi kebingungan.
Dengan memahami rasionalitas di balik penetapan ini, diharapkan tidak lagi bertanya mengapa Muhammadiyah berbeda? melainkan menyadari bahwa Muhammadiyah sedang menuju satu sistem global.
Momentum Ramadan 1447 H menjadi tonggak sejarah bagi transformasi kalender Islam. Penggunaan KHGT berarti mengikuti instruksi organisasi, juga bentuk partisipasi aktif dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.
Sambut 1 Ramadan 1447 Hijriah dengan kesiapan mental dan spiritual, seraya terus mengedukasi umat tentang pentingnya unifikasi kalender Islam demi ukhuwah Islamiah yang lebih nyata di tingkat global.
Landasan KHGT
Landasan dari ketetapan ini berakar pada hasil Muktamar Turki tahun 2016 tentang penyatuan kaleder Hijriah. Muhammadiyah mengadopsi prinsip KHGT dengan prinsip umat Islam di seluruh dunia membutuhkan satu sistem penanggalan yang seragam dan bersifat global.
Dalam sistem ini, batas-batas teritorial negara tidak lagi menjadi sekat dalam menentukan dimulainya bulan baru. Keberadaan satu hari satu tanggal di seluruh dunia menjadi cita-cita besar yang diusung.
Mengadopsi KHGT berarti melampaui batas-batas ego sektoral dan sekat geopolitik negara yang selama ini menjadi akar penyebab fragmentasi penanggalan Islam. Penggunaan KHGT selain menjadikan keseragaman seremonial, juga sebuah transformasi peradaban untuk membangun keteraturan sistemik yang berbasis pada sains astronomi dan kepastian hukum syarak.
Melalui unifikasi ini, setiap Muslim di berbagai belahan dunia dapat menjalankan ibadah dengan penuh keyakinan, sekaligus menunjukan Islam dapat menyediakan standar waktu global yang stabil dan predictable.
KHGT menggunakan kriteria awal bulan dimulai jika di belahan bumi mana pun terpenuhi syarat ketinggian bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24:00 UTC.
Namun, jika syarat tersebut belum tercapai, awal bulan tetap bisa dimulai asalkan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru dan kriteria ketinggian serta elongasi terpenuhi di wilayah daratan Benua Amerika. Inilah yang terjadi pada penentuan Ramadan 1447 Hijriah, di mana data menunjukkan terpenuhi di wilayah Amerika Utara.
Data spesifik menunjukkan pada koordinat barat laut Alaska, tepatnya pada 18 Februari 2026 pukul 03:43 UTC, saat matahari terbenam, posisi bulan telah mencapai ketinggian 50 23′ 01″ dengan elongasi sebesar 80 00′ 06″.
Wilayah-wilayah, seperti Semenanjung Alaska, Chevak, dan Port Heiden memenuhi parameter kalender global. Karena wilayah-wilayah tersebut merupakan bagian dari daratan utama Benua Amerika. Berdasarkan kaidah KHGT, seluruh dunia secara otomatis memasuki tanggal 1 Ramadan pada hari yang sama.
Penerapan KHGT merupakan sebuah lompatan paradigma. Di tengah upaya penyantuan ini, muncul perbedaan pandangan dengan otoritas keagamaan internasional seperti Diyanet di Turki yang menyisipkan variabel sosiologis, yakni syarat kepadatan penduduk atau keterhunian wilayah.
Namun, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid tetap pada parameter yang telah disepakati sebelumnya dan memandang syarat tambahan tersebut tidak selaras dengan semangat unifikasi global.
Memasukkan faktor kepadatan penduduk ke dalam sistem kalender justru akan merusak esensi unifikasi itu sendiri. Imkanu rukyat di daratan di benua mana pun adalah fakta astronomis yang sah untuk seluruh dunia, tanpa memandang apakah wilayah tersebut padat penduduk atau sekadar pesisir tak berpenghuni di ujung benua.
Apabila prasyarat demografis dijadikan pertimbangan, maka kalender Islam akan kehilangan sifat prediktabilitasnya dan terjebak kembali dalam kebingungan menentukan tanggal ibadah. Dengan berpedoman pada parameter yang ditetapkan tanpa syarat tambahan, maka tidak hanya sedang menetapkan waktu ibadah, tetapi juga sedang memelopori terbentuknya tatanan waktu umat Islam global.
Selain itu, tujuan utama KHGT adalah penyatuan. Jika membedakan wilayah berdasarkan kepadatan penduduk, secara tidak langsung menghidupkan kembali konsep wilayatul hukmi (batas-batas wilayah) yang bersifat lokal. KHGT memandang bumi sebagai satu kesatuan utuh.
Selama fenomena astronomis terjadi di daratan, bukan di tengah samudra yang tidak terjangkau, maka syarat tersebut sudah terpenuhi bagi seluruh penduduk bumi. || sumber: Suara Aisyiyah
