Makna “Hisab”

*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Hisab dalam Islam berarti perhitungan amal manusia di akhirat, di mana Allah menimbang kebaikan dan keburukan setiap hamba. Secara bahasa, hisab berasal dari kata Arab ḥasaba yang berarti menghitung, menakar, atau memperhitungkan.

  1. Secara Bahasa
  • Berasal dari akar kata: ḥasaba – yaḥsabu – ḥisāban
  • Maknanya: hitungan, perhitungan, sangkaan, dan kecukupan.
  • Digunakan dalam Al-Qur’an untuk konteks hitungan waktu, bilangan, maupun perhitungan amal.
  1. Secara Istilah (Syariat)
  • Hisab adalah perhitungan amal perbuatan manusia di hari kiamat.
  • Allah disebut Sari‘ul Hisab (Maha cepat perhitungan-Nya).
  • Menurut Ibnu Taimiyah: hisab adalah pemaparan dan pemberitahuan amal kepada pelakunya, lalu ditimbang antara kebaikan dan keburukan.
  1. Ragam Makna dalam Al-Qur’an

Hisab memiliki beberapa makna tergantung konteks ayat:

  • Perhitungan amal di akhirat, dalam QS. Al-Insyiqaq: 8 (“Maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah”).
  • Hitungan waktu atau bilangan, dalam QS. Yunus: 5 (“…agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (hisab).”
  • Hari perhitungan (Yaumul Hisab), dalam QS. Shaad: 53 (“Itulah hari perhitungan yang dijanjikan kepada mereka”).

Ada hadis Nabi mengatakan, yang pertama akan dihisab oleh Allah itu adalah salat. Kalau bagus salatnya bagus amalnya, kalau buruk salatnya buruk amalnya. Hadis ini sangat mashur dan menjadi pengingat betapa salat adalah tiang agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik maka baiklah seluruh amalnya, dan jika salatnya rusak maka rusaklah seluruh amalnya.”  (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah)

Makna Hadits:

Salat sebagai fondasi amal: Salat adalah ibadah yang paling utama setelah syahadat. Ia menjadi standar kualitas amal lain. Jika salatnya terjaga, amal lain akan lebih mudah diterima.

Salat sebagai cermin kehidupan: Salat bukan hanya ritual, tapi juga refleksi akhlak. Orang yang menjaga salat biasanya lebih disiplin, sabar, dan berakhlak baik.

Salat sebagai penghubung dengan Allah: Salat adalah mikraj seorang mukmin. Ia menghubungkan hati dengan Allah, sehingga amal lain tidak sekadar formalitas, tapi bernilai ibadah.

Refleksi Praktis:

  • Menjaga kualitas salat (khusyuk, tepat waktu, berjamaah) lebih penting daripada sekadar kuantitas amal lain.
  • Salat menjadi kompas: jika ia lurus, maka arah hidup juga lurus.
  • Amal sosial, dakwah, atau kerja sehari-hari akan lebih bermakna bila ditopang oleh salat yang benar.

Al-Qur’an menegaskan kewajiban salat dalam banyak ayat, di antaranya QS. Al-Baqarah: 43, QS. Al-Ankabut: 45, dan QS. Al-Mu’minun: 1–2. Ayat-ayat ini menekankan salat sebagai tiang agama, sarana mengingat Allah, serta penentu keberuntungan orang beriman.

  1. QS. Al-Baqarah: 43

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Artinya: Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

Menunjukkan perintah langsung untuk menegakkan salat. Salat dikaitkan dengan zakat sebagai ibadah pokok yang membentuk pribadi muslim.

  1. QS. Al-Ankabut: 45

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Salat bukan hanya ritual, tapi pencegah maksiat. Menjadi kompas moral yang menjaga perilaku sehari-hari. (*)

Tinggalkan Balasan

Search