Pada Hari Raya Iduladha—yang insya Allah jatuh pada hari Jumat, 10 Dzulhijjah (6 Juni)—terdapat dua bentuk ibadah besar yang menjadi media mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala serta menjadi peristiwa bersejarah bagi umat Islam.
Dua ibadah tersebut adalah ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban.
Allah berfirman:
“Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah), amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali Imran: 97)
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)
Keutamaan Puasa Hari Arafah
Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim No. 1162)
Pelajaran dari hadis tersebut:
Puasa Arafah adalah salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Keutamaannya sangat luar biasa dan disebutkan dalam banyak hadis shahih.
Bagi kaum muslimin yang tidak sedang berhaji, disunahkan untuk berpuasa pada hari Arafah.
Sedangkan bagi yang sedang melaksanakan haji, tidak dianjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut.
Dari Ikrimah, ia mengatakan:
“Aku masuk ke rumah Abu Hurairah dan bertanya tentang puasa hari Arafah bagi jamaah haji yang sedang berada di Arafah.”
Lalu Abu Hurairah menjawab:
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari Arafah di Arafah.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Keterkaitan Hadis dengan Al-Qur’an
Puasa memiliki hikmah besar dalam menyucikan jiwa dan mempersempit jalan masuk setan ke dalam diri manusia. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa juga merupakan amalan yang dapat menghapus dosa dan mendatangkan pahala yang besar, sebagaimana firman Allah:
“…Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Di momen mulia Dzulhijjah ini, marilah kita jadikan ibadah kurban, haji, dan puasa Arafah sebagai sarana penyucian jiwa dan penguatan ketakwaan.
Setiap ibadah yang kita lakukan bukan semata ritual, tetapi bentuk nyata dari kepasrahan dan cinta kita kepada Allah Ta’ala.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik untuk menjalankan amalan-amalan tersebut dengan ikhlas dan benar, serta meraih ampunan dan ridha-Nya di hari-hari yang penuh keutamaan ini. (*)
