Malam Takbiran dan Nyepi Bersamaan, Muhammadiyah Bali Sepakat Jaga Toleransi

www.majelistabligh.id -

Dalam rangka menjaga keharmonisan, ketertiban, keamanan, dan toleransi antarumat beragama di Provinsi Bali, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Husnul Fahmi, memberikan pernyataan Seruan Bersama terkait pelaksanaan malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah/Tahun 2026 yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/Tahun 2026, yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026.

“Setelah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, kami membuat seruan bersama bahwa umat Islam khususnya warga Muhammadiyah tetap diperbolehkan untuk melaksanakan takbir, namun dengan beberapa catatan. Salah satunya melakukan takbir, serta berjalan kaki menuju masjid/musala terdekat dan tidak menggunakan pengeras suara, serta penerangan yang terlalu mencolok,” jelas Fahmi, Sabtu (14/3).

Pernyataan tersebut tercantum dalam poin nomor 7 dan 8, surat edaran FKUB yang menerangkan sebagai berikut:

Mengingat Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 bertepatan dengan malam Takniran Idul Fitri 1447 Hijriah, maka:

  1. Umat Islam diperkenankan melaksanakan Takbiran di Masjid atau Musala terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.
  2. Pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus Masjid atau Musala, dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.

Prajuru Desa Adat, Pengurus Masjid atau Mushola, Pecalang, Linmas, serta Aparat Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan Takbiran di wilayahnya masing-masing, dengan berkoordinasi secara sinergis bersama aparat keamanan.

Di sisi lain, Fahmi menyebut bahwa pelaksanaan Salat Id akan mengalami sedikit penundaan, yang semula dimulai sekitar pukul 06.00 WITA, menjadi pukul 06.30 WITA.

Dalam hal Salat Idulfitri, pihaknya juga telah mendapat persetujuan langsung dari pemerintah daerah khususnya gubernur bahwa akan diberikan fasilitas Salat Idulfitri dengan menggunakan lapangan di depan kantor Gubernur Provinsi Bali.

“Untuk persiapan, kami akan melakukannya satu hari sebelum pelaksanaan nyepi. Kita harapkan umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah di Bali dapat berbondong-bondong datang setelah jam batas waktu pelaksanaan nyepi,” ujarnya.

Fahmi menegaskan bahwa momentum ini menjadi bukti untuk saling mempererat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Ia berharap dengan toleransi antar agama di Bali (khususnya) akan bertahan dan meningkat.

“Kami menghimbau kepada warga Muhammadiyah khususnya, umat Islam secara umum agar kita menjaga kerukunan umat, kerukunan beragama. Ini adalah toleransi yang sudah terjalin sejak zaman dahulu dan harapannya bisa ditingkatkan dan dipertahankan,” tegas Fahmi. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search