Setiap perjalanan sebuah bahtera rumah tangga selalu ada dinamika yang akan dihadapi, riak gelombang merupakan sebuah keniscayaan. Tiada satupun pasangan suami istri di dunia ini, bahkan pasangan yang paling harmonis sekalipun yang luput dari sebuah perselisihan dan perbedaan pandangan atau pendapat.
Dalam konsep Islam, memandang bahwa adanya konflik itu bukanlah tanda sebuah kehancuran. Sebaliknya, jika konflik tersebut dapat dikelola dengan baik dan penuh hikmah, akan menjadikan konflik seperti kerikil yang apabila diasah dengan baik, penuh kesabaran dan ilmu, akan berubah menjadi permata yang mempercantik pondasi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Oleh karenanya penting bagi setiap pasangan untuk senantiasa mengupgrade niat dan saling mengingatkan akan tujuan dasar sebuah pernikahan yakni ketenangan jiwa yang akan mendorong penyelesaian konflik secara damai demi menjaga keharmonisan keluarga tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al qu’an surat Ar Rum ayat 21.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” ( QS. Ar Rum : 21 ).
Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam hal menyelesaikan perselisihan dengan Aisyah RA dan istri-istri lainnya secara lembut melalui dialog terkadang dengan mengizinkan pihak ketiga (seperti Abu Bakar atau Umar) untuk menjadi penengah, hal ini menunjukkan fleksibiltas dalam mencari solusi.
Sebuah fenomena yang terjadi dan menjamur pada masa kini, justru menunjukkan betapa banyak pasangan suami istri yang banyak dininabobokan oleh gadget dan media sosial mengalami krisis kedewasaan dalam menyikapi konflik dalam rumah tangganya. Media sosial sering dijadikan meja strategis untuk cerita-cerita yang tak seharusnya tersebar.
Konflik Sebagai Fitrah Manusia
Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tanpa adanya masalah, melainkan keluarga yang memiliki resiliensi (ketahanan) dalam menghadapi masalah tersebut. Setiap manusia itu membawa latar belakang, pola asuh, ego dan cara pandang yang berbeda, ketika dua kepala bersatu dalam satu atap maka terjadinya gesekan merupakan hal yang lumrah.
Di dalam Al Qur’an Allah SWT mengingatkan bahwa pasangan hidup merupakan ujian sekaligus anugerah. Mengelola konflik berarti mengelola ekspektasi dan upaya menundukkan ego di bawah payung ketaatan kepada Allah SWT.
Tanpa adanya konflik, sebuah pasangan mungkin tidak akan pernah belajar tentang apa arti memaafkan, bagaimana cara bernegosiasi dan bagaimana saling memahami secara mendalam antara satu dengan lainnya.
Mengubah kerikil menjadi Permata
Bagaimana kita mengubah sebuah konflik yang melelahkan menjadi sebuah pembelajaran yang mendewasakan? Berikut adalah beberapa manajemen konflik berbasis nilai-nilai islami:
- Meluruskan Niat dan Kembali ke Titik Nol
Di saat konflik sedang memuncak, maka emosi acap kali mengambil alih logika sehat. Oleh karenan langkah pertama dalam manajemen konflik ala keluarga sakinah adalah ta’awwudz yakni memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan yang ingin memisahkan ikatan suci.
- Komunikasi dengan Kalimat yang Baik (Qaulan Layyinan)
Sering sekali bukan masalahnya yang besar tetapi cara menyampaikannya yang terkadang menyakitkan. Islam mengajarkan kita untuk berbicara dengan lemah lembut. Hindari kata-kata yang menghakimi, melabeli atau mengungkit masa lalu.
- Memilih Waktu dan Tempat yang Tepat
Manajemen konflik yang cerdas itu memerlukan momentum, jangan pernah membahas masalah krusial saat pasangan baru pulang kerja, sedang lapar atau di depan anak-anak. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjaga privasi rumah tangga. Selesaikan masalah di balik pintu kamar dengan tenang, suasana kondusif akan mendinginkan kepala yang panas.
- Menjadi Pendengar yang Empatik
Konflik sering kali berlanjut karena kedua belah pihak merasa tidak didengar. Dalam keluarga sakinah, mendengarkan adalah bentuk sedekah, berikan kesempatan pada pasangan untuk menumpahkan seluruh isi hatinya tanpa diinterupsi. Terkadang, pasangan hanya butuh divalidasi perasaannya, bukan langsung diberikan solusi teknis.
- Budaya Meminta Maaf dan Memaafkan
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Meminta maaf tidak akan merendahkan harga diri sesorang, justru ia menunjukkan ketinggian akhlak. Begitu juga dengan memaafkan, menyimpan dendam hanya akan menjadi beban yang dapat merusak kesehatan mental dan spiritual, maka jadikan memaafkan sebagai ritual sebelum tidur, agar tidak ada ganjalan yang dibawa ke hari esok.
Mengasah Konflik menjadi Permata Kebijaksanaan
Setiap konflik yang berhasil dilalui dengan cara yang baik akan meninggalkan atsar permata hikmah:
- Permata Kedekatan: Setelah badai konflik reda, biasanya akan muncul rasa syukur dan kemesraan yang lebih dalam karena telah berhasil melewati ujian bersama.
- Permata Kedewasaan: Pasangan belajar untuk tidak lagi meributkan hal-hal yang sepele dan dapat lebih fokus pada visi besar keluarga.
- Permata Keteladanan : Anak-anak yang melihat orang tuanya berdiskusi secara sehat (bukan bertengkar dengan kekerasan) akan belajar tentang cara bagaimana berkomunikasi dan menyelesaikan masalah di masa depan.
Membangun keluarga sakinah merupakan proses belajar seumur hidup. Janganlah berkecil hati dan berputus asa di saat kerikil – kerikil konflik muncul di tengah jalan, kerikil itu ada bukan untuk menghentikan langkah kita, melainkan untuk melatih kekuatan otot kesabaran dan kelembutan hati kita.
Dengan manajemen konflik yang berlandaskan pada kasih sayang dan syariat, maka setiap perselisihan akan menjadi sarana untuk mendaki derajat ketaqwaan yang lebih tinggi. Mari kita ubah setiap air mata menjadi doa, dan setiap perdebatan menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih tulus, karena pada akhirnya, rumah tangga yang paling indah adalah rumah tangga yang mampu mengubah ujian menjadi berkah. (*)
