Dunia ini pada hakikatnya hanyalah tiga hari. Maka, tiga hari inilah yang perlu kita ingat dan manfaatkan:
1. Hari yang telah berlalu (kemarin)
Hari yang sudah lewat tidak akan kembali. Kita tidak bisa mengulanginya, kecuali hanya bisa menyesali dosa yang telah dilakukan dan mengambil pelajaran dari kesalahan yang pernah terjadi.
2. Hari yang sedang kita jalani (hari ini)
Inilah kesempatan nyata yang kita miliki. Gunakan waktu hari ini untuk beribadah, beramal shalih, dan memanfaatkan setiap kesempatan kebaikan yang ada.
3. Hari yang akan datang (esok hari)
Kita tidak tahu apakah kita masih diberi kesempatan mengalaminya. Bisa jadi, sebelum esok tiba, kita sudah dipanggil oleh Allah. Karena itu, jangan menunda kebaikan, karena umur adalah misteri yang tidak diketahui manusia.
Siapa pun yang menyadari hakikat ini semestinya tidak menunda-nunda untuk beramal shalih, melaksanakan ketaatan, dan segera bertaubat.
Betapa singkatnya waktu hidup di dunia; jangan sia-siakan dengan angan-angan kosong dan kelalaian.
Gunakan hari ini untuk taat kepada Allah, menyesali dosa yang telah lalu, dan mempersiapkan diri menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja.
Allah Subḥānahu Wa Taʿālā berfirman:
وَالْعَصْرِۙ (١) اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (٢) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al-‘Asr: 1-3)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Maka, janganlah tertipu oleh panjangnya angan-angan dunia yang fana. Persiapkan bekal terbaik menuju akhirat yaitu ketakwaan, agar kelak kita kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. (*)
