Inti dari adab Qur’ani dan sunnah: adalah ta’aruf (saling mengenal) dan tawaṣhou bil-ḥaqq (saling menasihati dalam kebenaran) adalah fondasi ukhuwah. Yang sering membuat retak hubungan justru ketika kita tergelincir ke dalam menilai dan menghakimi, padahal Allah mengingatkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.
Panggilan fasik adalah panggilan dengan menggunakan kata-kata yang mengandung penghinaan atau tidak mencerminkan sifat seorang mukmin.
Mari kita bedakan:
Saling mengenal: membuka hati, memahami latar belakang, menghargai perbedaan.
Saling menasihati: memberi dorongan dengan kasih, mengingatkan dengan hikmah, bukan dengan vonis.
Saling menilai/menghakimi: menutup pintu dialog, menumbuhkan prasangka, dan sering melahirkan luka.
Ketika kita menasihati, kita seperti cermin yang jernih—memantulkan apa adanya, tanpa menambah atau mengurangi, dan dengan niat membantu orang merapikan diri. Sedangkan menghakimi itu seperti kaca yang retak—bayangan jadi terdistorsi, dan orang merasa disudutkan.
Ta’aruf sangat penting dalam Islam karena menjadi jalan untuk saling mengenal secara sehat, jujur, dan penuh adab, bukan sekadar interaksi bebas.
Dalil utamanya terdapat dalam QS. Al-Ḥujurāt ayat 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti.
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan perbedaan adalah untuk saling mengenal (ta’aruf), bukan untuk saling merendahkan atau bermusuhan.
Hadis Nabi ﷺ:
“Rasulullah menekankan pentingnya mengenal calon pasangan sebelum menikah. Dalam riwayat, beliau menganjurkan melihat calon istri agar lebih mantap dalam mengambil keputusan (HR. Abu Dawud, Tirmidzi). Ini adalah bentuk ta’aruf yang syar’i, bukan sekadar interaksi bebas.
Pentingnya Ta’aruf:
- Membangun ukhuwah
Ta’aruf membuka ruang untuk memahami latar belakang, karakter, dan nilai orang lain sehingga tercipta hubungan yang sehat.
- Menghindari prasangka & konflik
Dengan saling mengenal, kita bisa meminimalisir kesalahpahaman dan ketidakcocokan di masa depan, baik dalam pernikahan maupun kehidupan sosial.
- Menjadi dasar nasihat yang bijak
Nasihat hanya bisa tepat bila kita mengenal kondisi orang yang dinasihati. Tanpa ta’aruf, nasihat bisa berubah menjadi vonis.
- Mewujudkan masyarakat yang harmonis
Ta’aruf menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan suku, budaya, dan status sosial, sesuai dengan pesan Qur’an.
Saling menasihati dalam kebaikan adalah salah satu fondasi utama kehidupan Islami. Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-‘Ashr bahwa manusia akan rugi kecuali yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Nasihat bukan sekadar teguran, tetapi bentuk kasih sayang dan kepedulian agar sesama tidak terjerumus dalam keburukan.
Ayat ini menegaskan bahwa nasihat adalah syarat keselamatan dari kerugian hidup.
Hadis Nabi ﷺ:
“Agama itu adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum.” (HR. Muslim).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa nasihat adalah inti dari keberagamaan.
Pentingnya Saling Menasihati:
- Menjaga dari kerugian spiritual dan sosial. Tanpa nasihat, manusia mudah terjerumus dalam kesalahan dan kerugian hidup.
- Menguatkan ukhuwah. Nasihat yang tulus mempererat hubungan, karena lahir dari kepedulian dan kasih sayang.
- Membangun masyarakat yang sehat. Dengan saling menasihati, masyarakat terhindar dari budaya acuh tak acuh dan bisa saling mengingatkan pada kebaikan.
- Melatih kesabaran dan keikhlasan. Memberi dan menerima nasihat membutuhkan hati yang sabar dan ikhlas, sehingga melatih karakter mulia. (*)
