Masa Lansia: Antara Masjid dan Rumah Sakit

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Langkah di masa tua tak lagi panjang, tapi justru di situlah arah menjadi terang. Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah, melainkan ke mana jiwa akan pulang.

Di antara dua tempat yang kian akrab: masjid dan rumah sakit.

Masjid adalah panggilan yang lembut. Rumah sakit adalah panggilan yang tak bisa ditunda. Di masjid, manusia masih punya pilihan untuk datang. Di rumah sakit, sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan.

Sajadah mengajarkan tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri. Ranjang perawatan mengajarkan pasrah ketika semua daya telah ditarik pergi.

Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang: ruang ibadah dan ruang perawatan.

Namun sesungguhnya, yang diuji bukan tubuh, melainkan kesadaran.

Kesadaran untuk memahami:

  • bahwa waktu yang dulu terasa panjang, kini terasa singkat.
  • bahwa kesempatan yang dulu diabaikan, kini terasa mahal.

Masa tua bukan sekadar fase menua, tetapi fase pembuktian apa yang dulu ditanam, kini dituai tanpa bisa ditawar.

Jika masa muda dipenuhi ambisi dunia, maka masa tua sering dihantui kegelisahan. Namun jika masa muda disirami iman, maka masa lansia menjelma menjadi taman, meski tubuh mulai rapuh.

Ada yang tetap melangkah ke masjid dengan kaki gemetar, karena hatinya sudah terbiasa pulang ke sana.

Ada yang terbaring di rumah sakit, namun lisannya tetap basah oleh zikir, karena hatinya tak pernah jauh dari Allah.

Di titik ini, perbedaan fisik menjadi tidak lagi penting. Yang menentukan hanyalah kebiasaan jiwa. Sebab pada akhirnya, masjid dan rumah sakit bukanlah dua dunia yang bertolak belakang, melainkan dua pintu menuju satu tujuan yang sama: pulang.

Hanya saja, yang satu dipanggil dengan kesadaran, yang satu lagi sering didatangkan dengan peringatan.

Maka pesan yang tersisa sederhana, tapi sering diabaikan:

  • jangan tunggu sakit untuk mengingat.
  • jangan tunggu lemah untuk bersujud.

Karena ketika tubuh masih kuat, itu bukan sekadar kesehatan, itu adalah undangan. Dan ketika tubuh mulai terbaring, itu bukan sekadar ujian, itu adalah teguran.

Resonansi yang tak bisa dielakkan:

  • Masjid memanggil sebelum kita benar-benar dipanggil.
  • Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan.

Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata, namun menentukan segalanya: kesadaran. Dan waktu, tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.

In syaa Allah bermanfaat dan menginspirasi kita semua Aamiin. || fimdalimunthe55@gmail.com

ismirzaf@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Search