Masjid Da’wah, Tempat Lahirnya Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah UM Surabaya

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Keberadaan Masjid Da’wah di Jalan Blauran Kidul 2/21, Surabaya, yang diberitakan oleh Majelistablig.id pada Ahad (8/6/2025), mendapat respons luas dari berbagai kalangan masyarakat.

Masjid yang telah lama menjadi bagian dari sejarah dakwah Muhammadiyah ini mengundang beragam komentar dan kenangan dari para pembaca.

Sejumlah pihak menyampaikan respons yang bernuansa emosional. Ada yang merasa nostalgik, mengenang masa-masa ketika mereka mengikuti pengajian atau kegiatan keislaman di masjid tersebut.

Beberapa menyampaikan pengalaman spiritual pribadi yang sangat mengesankan saat berada di lingkungan masjid ini.

Ada pula yang bertanya-tanya, apakah masyarakat di sekitar masjid masih menetap atau telah banyak yang berpindah tempat tinggal.

Yang menarik, Majelistablig.id juga menerima tambahan data dan referensi mengenai masjid bersejarah tersebut.

Beberapa tautan dari portal daring serta arsip kliping media cetak lama semakin memperkaya narasi sejarah Masjid Da’wah, yang dulunya dikenal sebagai salah satu pusat gerakan dakwah Muhammadiyah di jantung Kota Surabaya.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Masjid Da’wah sering menjadi tempat persinggahan para dai dari berbagai daerah ketika berdakwah ke kawasan timur Jawa.

Masjid ini juga tercatat pernah menjadi lokasi berlangsungnya berbagai pertemuan penting antara aktivis dakwah kampus dan tokoh-tokoh Muhammadiyah Jawa Timur.

Dari catatan yang berhasil dihimpun, masjid ini didirikan sekitar akhir tahun 1960-an oleh tokoh-tokoh muda Muhammadiyah yang bersemangat membangun wadah pembinaan umat di kawasan perdagangan yang padat penduduk.

Letaknya yang strategis, berdekatan dengan Pasar Blauran dan pusat aktivitas masyarakat urban, menjadikan Masjid Da’wah memiliki peran ganda: sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai basis penyadaran sosial.

Kini, di tengah derasnya arus modernisasi kota, keberadaan Masjid Da’wah menyimpan potensi besar sebagai simpul revitalisasi nilai-nilai keislaman dan sosial.

Banyak yang berharap masjid ini bisa dihidupkan kembali dengan program-program keummatan yang relevan dengan tantangan zaman, khususnya bagi generasi muda yang mulai mencari akar spiritualitas di tengah hiruk pikuk kota.

Upaya dokumentasi sejarah dan pemetaan kontribusi Masjid Da’wah ke depan bisa menjadi langkah strategis untuk mengembalikan ruh perjuangan yang pernah menyala di sana.

Tidak hanya sebagai bangunan fisik bersejarah, tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan dakwah yang inklusif, membumi, dan berpihak pada kemajuan umat.

Masjid Da’wah, Tempat Lahirnya Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah UM Surabaya
Menara Masjid Da’wah yang masih berdiri kokoh. foto: agus wahyudi/majelistabligh.id

***

Di balik berdirinya Masjid Da’wah di Jalan Blauran Kidul, Surabaya, tersimpan sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan dakwah Islam, tetapi juga dengan kelahiran lembaga pendidikan tinggi Islam yang berpengaruh, Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah (FIAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya  yang kini dikenal dengan sebutan UM Surabaya.

Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat ibadah, melainkan titik awal dari sebuah perjalanan intelektual dan spiritual yang membentuk wajah dakwah Muhammadiyah di Jawa Timur.

Tak banyak yang mengetahui bahwa Masjid Da’wah memiliki “saudara tua”, yakni Musala Ad Dakwah di Jalan Botoputih I/16, kawasan Ampel.

Dua bangunan ini bagaikan simpul dari jaringan dakwah Muhammadiyah yang membentang di pusat kota Surabaya, menggambarkan peran penting gerakan Islam dalam merespons kebutuhan rohani masyarakat urban.

Hubungan historis tersebut diungkap oleh Ustaz M. Rofiq Munawi dalam kultum tarawih pada Jumat malam, 18 Mei 2018. Dia menyampaikan bahwa Musala Ad Dakwah dibangun tahun 1983 sebagai bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah.

“Musholla ini dibangun seiring dengan tugas Ustaz Shomad yang saat itu ditugaskan menghidupkan kembali Masjid Da’wah di Jalan Blauran Kidul,” tuturnya seprti dilansir pwmu.co.

Lebih jauh, Masjid Da’wah ternyata menjadi cikal bakal lahirnya FIAD. Kala itu, Surabaya belum memiliki universitas Muhammadiyah. Maka FIAD pun berdiri di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai upaya memfasilitasi kaderisasi dakwah dan intelektual muda Muhammadiyah.

Kampus FIAD yang semula berada di sekitar Masjid Da’wah kemudian dipindahkan ke Jalan Kapasan No. 73–75, berseberangan dengan Pasar Kapasan. Di lokasi baru inilah FIAD bertumbuh dan berkembang menjadi bagian dari Fakultas Agama Islam (FAI) UM Surabaya seperti yang dikenal sekarang.

Jejak sejarah FIAD turut diungkap oleh Sun’an Miskan, sejarawan Muhammadiyah Surabaya. Dia membagikan arsip Majalah Al-Fikr edisi Juli 2013 kepada Ketua Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PDM Surabaya, Andi Hariyadi.

Dalam arsip itu disebutkan bahwa FIAD didirikan pada 12 September 1964 oleh AM. Nur Salim, MA, alumni Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus perwira Angkatan Darat yang aktif dalam gerakan pembentukan fakultas-fakultas agama di Indonesia.

Beberapa inisiatif pendidikan lain dari AM. Nur Salim antara lain: FIAT (Kediri), FIAS (Bangkalan), dan FIAD (Surabaya). Meski FIAS tak sempat beroperasi, dua lainnya tetap bertahan dan berkontribusi bagi pendidikan Islam hingga hari ini.

Pendirian FIAD berlangsung dalam suasana politik nasional yang genting, menjelang peristiwa G30S/PKI. Mahasiswa angkatan pertama pun tidak luput dari dinamika sosial-politik masa itu.

FIAD awalnya berlokasi di Blauran, lalu berpindah ke Kapasan akibat pengalihan aset rampasan. Ironisnya, lokasi lama FIAD di Blauran lalu justru bertransformasi menjadi Masjid Da’wah, menyempurnakan lingkaran sejarah antara masjid dan kampus.

Tokoh-tokoh penting yang turut membesarkan FIAD antara lain H. Mas’ud Atmodiwirjo, Marsekan Fatawi (mantan Rektor IAIN), Rachmat Djatnika, Umar Hubesj (Pimpinan Al-Irsyad Nasional di Surabaya), dan para ulama Muhammadiyah lainnya. Keberadaan mereka memperkuat posisi FIAD sebagai fakultas agama swasta pertama di Jawa Timur.

Meskipun kini berubah nama menjadi Fakultas Ushuluddin, warisan FIAD tetap menjadi identitas kuat yang membentuk karakter fakultas. Fokus awalnya adalah jurusan Perbandingan Agama, dan sebagian besar lulusannya menjadi dai, muballigh, atau tokoh dakwah di berbagai daerah.

Tantangan mulai terasa saat minat terhadap jurusan keagamaan menurun. Banyak daerah pengirim mahasiswa seperti Lamongan, Gresik, dan Sidoarjo, kini memiliki kampus sendiri.

Namun demikian, semangat dakwah tetap terjaga. Tiap Ramadhan, FIAD mengirim mahasiswa untuk berdakwah hingga ke luar pulau, menjawab panggilan amar ma’ruf nahi munkar.

Pada masa awal, FIAD hanya diakui setara jenjang Sarjana Muda. Kini, program S1 telah diakui secara nasional. Beberapa nama penting yang memimpin fakultas di antaranya Isrok Kusnoto, Ahmad Sunaryo, serta Dr. Hamzah Tualeka ZN, M.Ag, yang dikenal sebagai akademisi dan organisator Muhammadiyah.

Lebih dari sekadar institusi pendidikan, FIAD adalah saksi hidup dari perjuangan dakwah dan pendidikan yang berjalan seiring. Ia lahir dari kongres nasional yang merekomendasikan pentingnya lembaga formal dalam mendidik para dai.

Maka tidak mengherankan jika nilai-nilai dakwah begitu kental menyatu dalam setiap aktivitas akademik di fakultas ini.

Kini, Masjid Da’wah dan FIAD adalah dua entitas yang tetap berdiri meski zaman berubah. Keduanya tidak hanya menyimpan kenangan, tetapi juga menyalakan harapan bahwa semangat dakwah, pendidikan, dan keikhlasan tidak pernah lekang dimakan waktu.

Masjid Da’wah, Tempat Lahirnya Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah UM Surabaya
Plakat Masjid Da’wah di Jalan Embong Malang, Surabaya. foto: agus wahyudi/majelistabligh.id

***

Sejarawan Muhammadiyah Andi Hariyadi mengenang sebuah momen penting dalam perjalanan intelektualnya. Sekitar tahun 1990-an, untuk pertama kalinya ia mengikuti kajian keislaman di Masjid Da’wah.

“Saya masih muda waktu itu, baru mulai mengenal pemikiran-pemikiran besar Muhammadiyah,” ujarnya.

Yang membuatnya semakin terkesan, kajian perdana tersebut langsung diisi oleh sosok intelektual besar: Buya Syafi’i Ma’arif.

“Beliau baru pulang dari studinya di Amerika Serikat. Cara menyampaikan materinya sangat khas, kritis, mendalam, tetapi tetap membumi. Pemikiran-pemikirannya tajam, namun disampaikan dengan penuh kebijaksanaan,” tutur pria kalem ini.

Hari itu menjadi semakin berkesan karena keesokan paginya, Buya Syafi’i juga menjadi khatib salat Jumat di masjid dekat rumah Andi, tepatnya di Jalan Dr. Sutomo, kawasan Tegalsari, Surabaya.

“Itu adalah pengalaman spiritual dan intelektual yang tak terlupakan. Dari situlah saya semakin mantap menekuni sejarah dan pemikiran Muhammadiyah,” ujarnya penuh haru.

Dari Musala Ad-Dakwah di Botoputih hingga Masjid Da’wah di Blauran ke Kapasan, jejak dakwah Muhammadiyah Surabaya terus mengalir dan membentuk tapak sejarahnya sendiri.

Dan di tengah arus sejarah itu, FIAD bukan hanya menjadi saksi, tetapi juga menjadi suluh, yang menyalakan obor ilmu, iman, dan amal dalam bingkai dakwah berkemajuan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search