Madinah al-Munawwarah adalah kota suci yang sarat dengan peninggalan sejarah Islam. Salah satu bangunan bersejarah yang masih tegak berdiri hingga kini adalah Masjid Al-Ghamamah (مسجد الغمامة).
Terletak tak jauh dari Masjid Nabawi, masjid ini menyimpan jejak penting sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ dan menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa spiritual yang berpengaruh dalam Islam.
Asal-Usul Nama Masjid Ghamamah
Nama “Ghamamah” berasal dari bahasa Arab ghamāmah (الغمامة) yang berarti awan. Dinamakan demikian karena dalam sebuah peristiwa shalat Istisqa’ (shalat meminta hujan) yang dilakukan Rasulullah saw di tempat ini, awan mendung muncul menutupi langit Madinah, sebagai tanda dikabulkannya doa beliau untuk turunnya hujan.
Peristiwa itu sangat membekas di hati para sahabat dan penduduk Madinah. Sejak saat itu, lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Ghamamah sebagai simbol turunnya rahmat dari Allah melalui doa Rasulullah saw.

Fungsi di Zaman Nabi Muhammad
Pada masa Rasulullah ﷺ, area di mana Masjid Ghamamah sekarang berdiri digunakan sebagai lapangan terbuka. Di sinilah Rasulullah ﷺ beberapa kali melaksanakan:
1. Salat Idulfitri dan Iduladha
2. Salat Istisqa’ (salat minta hujan)
3. Beberapa kali menyampaikan khutbah umum kepada umat
Tempat ini menjadi ruang terbuka publik di Madinah, yang dimanfaatkan untuk ibadah bersama dan penguatan ukhuwah umat Islam kala itu. Oleh karena itu, keberadaan lokasi ini memiliki nilai spiritual dan historis yang tinggi.
Kapan Masjid Ghamamah Dibangun?
Masjid Ghamamah tidak dibangun pada masa Rasulullah saw, melainkan baru didirikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saat beliau menjabat sebagai Gubernur Madinah di masa Kekhalifahan Umayyah, sekitar awal abad ke-8 Masehi (sekitar tahun 705 M).
Sejak pertama kali dibangun, masjid ini beberapa kali mengalami pemugaran dan renovasi oleh dinasti-dinasti Islam setelahnya, termasuk oleh Dinasti Abbasiyah, Utsmaniyah, dan kerajaan Arab Saudi di masa modern.
Fungsi Masjid Ghamamah Saat Ini
Saat ini, Masjid Ghamamah menjadi salah satu destinasi ziarah spiritual bagi para jamaah umrah dan haji yang berkunjung ke Madinah. Letaknya hanya sekitar 300 meter di sebelah barat daya Masjid Nabawi, menjadikannya sangat mudah diakses peziarah.
Namun, sejak beberapa tahun terakhir, masjid ini tidak digunakan untuk shalat lima waktu secara reguler karena letaknya yang dekat dengan Masjid Nabawi.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menjaganya sebagai situs sejarah dan warisan arsitektur Islam, dan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu, terutama pada musim haji dan umrah.

Ciri Arsitektur dan Keindahan
Masjid Ghamamah memiliki arsitektur khas era Utsmaniyah dengan kubah besar di tengah dan beberapa lengkungan di bagian mihrab.
Bangunan masjid yang kita lihat sekarang merupakan hasil renovasi yang dilakukan secara menyeluruh pada masa Ottoman dan kemudian dilestarikan oleh pemerintah Saudi.
Jadi, Masjid Ghamamah bukan sekadar bangunan tua, melainkan jejak sejarah spiritual yang menunjukkan bagaimana Rasulullah saw membimbing umatnya dalam suka dan duka.
Dari tempat ini, hujan rahmat pernah turun atas doa Nabi, dan semangat persatuan umat diteguhkan dalam salat jamaah.
Semoga keberadaan masjid ini terus menjadi inspirasi dan pengingat bagi umat Islam akan pentingnya doa, ukhuwah, dan keberkahan dalam kebersamaan. (*)
