Masjid Taqwa, Kilau Baru Warisan KH Mas Mansur

*) Oleh : Agus Wahyudi
Jurnalis dan Anggota Majelistabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Jumat, 18 April 2025. Mentari belum kelewt terik saat saya melangkah ke kawasan Kalimas Udik IC, Surabaya. Tujuan saya satu: melaksanakan salat Jumat dan bersilaturahmi ke Masjid Taqwa.

Masjid sangat bersejarah itu dulu berdiri sederhana, kini tampil megah dan menyentuh hati siapa saja yang memasukinya.

Masjid ini bukan sembarang rumah ibadah. Ia adalah bagian dari warisan KH Mas Mansur, tokoh besar Muhammadiyah, yang dibangun sejak 26 Agustus 1922.

Masjid ini menyatu dalam bangunan Madrasah Mufidah, yang kini dikenal sebagai Sekolah Dasar Mufidah. Di usia 101 tahun, masjid dan sekolah ini mengalami transformasi besar.

Di mana masjid itu telah dipugar, diperluas, dan dipoles kembali menjadi simbol kebangkitan pendidikan dan spiritualitas di kawasan ini.

Saya masih sangat mengingat suasana Masjid Taqwa sebelum dipugar: bangunannya sederhana dan terkesan sempit, dengan dominasi kayu jati tua yang telah berumur ratusan tahun. Ruangannya redup, dan penataannya tampak seadanya.

Di sudut-sudut masjid, berjajar beberapa rak kayu yang dipenuhi buku-buku agama dan mushaf Al-Qur’an, sebagian besar berselimut debu.

Nuansanya menghadirkan kehangatan nostalgia, namun juga menyiratkan perlunya peremajaan.

Kini, semua itu berubah total. Dari tempat yang dahulu sederhana, Masjid Taqwa menjelma menjadi ruang ibadah yang menyejukkan mata dan hati.

Perubahan ini bukan sekadar fisik, tetapi juga mencerminkan semangat baru dalam merawat warisan para pendahulu dan menyambut generasi mendatang dengan lebih layak dan penuh harap.

Masjid Taqwa tampil lux, mewah namun tetap menenangkan. Karpetnya empuk, ornamen dalamnya anggun dengan sentuhan arsitektur modern dan nilai-nilai Islam yang kuat.

Ornamen kaligrafi mengalun di dinding, menyejukkan mata siapa pun yang memandang. Tak ada tiang penyangga di tengah ruangan — sebuah keputusan arsitektural yang unik dan menantang.

Masjid Taqwa, Kilau Baru Warisan KH Mas Mansur
Jamaah Salat Jumat di Masjid Taqwa. foto: ist

***

Menurut Syarif Basrewan, ST, MT, pelaksana proyek, desain awal sebenarnya menyertakan tiang. Namun setelah diskusi mendalam, diputuskan desain masjid tanpa tiang tengah, dengan konstruksi canggih layaknya jembatan.

“Kami kerjakan on the spot. Tidak bisa di-workshop karena lahannya tidak memungkinkan,” ujarnya.

Pekerjaan besar ini pun dilakukan tanpa mengganggu warga. Bahkan, beberapa rumah warga sempat digunakan dan setelah proyek selesai, dikembalikan seperti sedia kala.

Yang patut diapresiasi, pembangunan masjid ini sama sekali tidak merusak lingkungan sekitar.

Tidak ada bangunan warga yang rusak. Proses pembangunan pun menggunakan teknik boring untuk tiang pancang demi kestabilan struktur.

Total luas bangunan kini mencapai 1.700 meter persegi, dengan empat lantai dan perluasan area dari 280 meter persegi menjadi 440 meter persegi. Penambahan itu berkat pembelian 1 rumah tambahan dan 1 rumah seluas 70 meter persegi, dan sisana wakaf dari Aunur Rofik, anak KH Mas Mansur.

Tempat wudu juga bersih. Airnya mengalir lancar dan jernih, memberi kesegaran sebelum melangkah ke ruang utama masjid.

Tak hanya memperhatikan aspek kenyamanan, masjid ini juga menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi.

Tersedia jalur khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas, lengkap dengan pegangan tangan dan akses landai yang memudahkan mereka bergerak tanpa hambatan.

Detail-detail kecil seperti ini mencerminkan wajah Islam yang ramah dan peduli. Masjid Taqwa bukan hanya tempat salat, tetapi menjadi ruang inklusif yang membuka diri untuk semua kalangan.

Baik untuk tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan mereka yang selama ini mungkin merasa kesulitan beribadah di ruang publik.

Begitu kaki menapak di dalam masjid, suasana sejuk langsung menyambut. AC menyebar udara dingin merata ke seluruh ruangan.

Di sisi dinding, sebuah kulkas berdiri tenang, berisi air mineral dingin. Fasilitas ini diberikan gratis untuk jamaah yang kehausan.

Hal-hal kecil seperti ini yang membuat Masjid Taqwa terasa lebih dari sekadar tempat ibadah: ia menjadi rumah kenyamanan dan keramahan.

Masjid Taqwa, Kilau Baru Warisan KH Mas Mansur
Para siswa Madrasah Mufidah masa lalu. foto: ist

***

Pemugaran masjid ternyata membawa dampak besar juga bagi Sekolah Dasar Mufidah. Peningkatan kualitas akademik terjadi signifikan.

“Sekarang, siswa SD sebelum lulus minimal sudah hafal satu juz Al-Qur’an,” terang Ketua Yayasan KH Mas Mansur, Agus Rusyidi.

Dengan jumlah siswa mencapai 260 orang dari jenjang TK dan SD, sekolah ini tengah bersiap mengembangkan sistem dua kelas: pagi dan siang.

“Yang masuk siang akan difokuskan untuk memperdalam bacaan Al-Qur’an,” lanjut Didik, sapaan karibnya.

Sistem full day school menjadi arah ke depan, terang dia, menjawab tingginya animo masyarakat yang ingin anaknya bersekolah di tempat yang memiliki nilai historis sekaligus mutu pendidikan unggul.

Di bawah atap yang sama, anak-anak belajar membaca, menulis, dan yang tak kalah penting: menghafal Al-Qur’an.

Tak hanya itu, antusiasme masyarakat juga meningkat. Dengan jumlah siswa yang terus bertambah hingga mencapai 260 anak dari tingkat TK hingga SD, pihak yayasan mulai mempertimbangkan pembukaan dua sesi kelas: pagi dan siang.

Rencana pembukaan kelas baru ini dimaksudkan agar lebih banyak anak bisa mengakses pendidikan bermutu.

Suasana madrasah kini lebih hidup, penuh semangat, dan berdenyut bersama aktivitas masjid yang aktif melayani jamaah dari berbagai kalangan.

Masjid Taqwa bukan sekadar bangunan baru yang megah, tetapi simbol keberlanjutan warisan ulama besar.

Dalam tubuh bangunannya, tersimpan semangat KH Mas Mansur yang terus hidup: menghidupkan agama, pendidikan, dan masyarakat.

Setiap sudut masjid seakan memantulkan jejak perjuangan beliau — dari mimbar yang kokoh hingga ruang kelas di sebelahnya yang menjadi saksi lahirnya generasi Qurani.

Di tempat ini, agama tidak sekadar diajarkan, tapi dihidupi. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tapi juga akhlak dan spiritualitas.

Masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton, tapi turut terlibat, merawat, dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan mereka.

Masjid Taqwa kini berdiri sebagai penanda zaman: bahwa nilai-nilai luhur bisa terus relevan bila dirawat dengan cinta, dan bahwa warisan bukanlah peninggalan mati, melainkan api semangat yang harus terus dijaga agar menyala bagi generasi yang akan datang.

Masjid ini kini bukan hanya tempat salat, tapi menjadi pusat harapan baru. Menjadi tempat para siswa tumbuh dengan semangat Qurani, dan masyarakat menemukan kenyamanan serta kemuliaan dalam beribadah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search