Masjid Utsman bin Affan, Bukti Interaksi Peradaban Islam Dunia

Masjid Utsman bin Affan di Jeddah, Arab Saudi, telah berdiri sejak tahun 33 Hijriah atau sekitar 654 Masehi. Salah satu peninggalan penting dalam sejarah awal Islam. (Foto: SPA)
www.majelistabligh.id -

Masjid yang dikaitkan dengan Utsman bin Affan ini berdiri kokoh di kawasan kota tua, Jeddah, Arab Saudi, dengan catatan sejarah yang menembus lebih dari 13 abad perjalanan peradaban Islam. Masjid ini menjadi salah satu situs bersejarah tertua yang kembali menyita perhatian publik.

Masjid Utsman bin Affan tercatat telah berdiri sejak tahun 33 Hijriah atau sekitar 654 Masehi, menjadikannya salah satu peninggalan penting dalam sejarah awal Islam. Keberadaannya bukan sekadar simbol religius, tetapi bukti nyata perkembangan peradaban yang terhubung dengan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya dunia Islam sejak masa klasik.

Seperti dilansir dari kantor berita nasional Arab Saudi, SPA, Kamis (2/4/2026), temuan terbaru dari hasil penggalian arkeologi mengungkap bahwa lokasi masjid ini telah digunakan secara terus-menerus selama lebih dari 1.300 tahun.  Lapisan sejarah yang ditemukan menunjukkan jejak peradaban dari berbagai era, mulai dari masa Bani Umayyah, Abbasiyah, hingga periode Mamluk.

Salah satu penemuan paling mencengangkan adalah sistem distribusi air berusia sekitar 800 tahun. Sistem tersebut menunjukkan tingkat kecanggihan teknologi yang telah berkembang jauh sebelum era modern.

Para peneliti menilai, teknologi tersebut menjadi bukti masyarakat Muslim pada masa itu telah memiliki kemampuan rekayasa yang tinggi, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih.

Selain itu, ditemukan pula tiang-tiang mihrab yang terbuat dari kayu eboni langka. Hasil analisis ilmiah mengungkap bahwa material tersebut berasal dari wilayah Sri Lanka, yang dahulu dikenal sebagai Ceylon. Fakta tersebut membuka tabir baru tentang luasnya jaringan perdagangan maritim yang telah terjalin sejak masa awal Islam.

Jejak Jalur Perdagangan Dunia

Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa kota Jeddah sejak dahulu telah menjadi bagian penting dalam jalur perdagangan internasional. Kota itu bukan hanya tempat persinggahan, tetapi juga pusat interaksi antarbangsa yang mempertemukan berbagai budaya dan peradaban.

Penelitian juga mengidentifikasi setidaknya tujuh fase pembangunan arsitektur yang berbeda di masjid tersebut. Seluruh tahapan ini telah didokumentasikan secara digital, menampilkan teknik konstruksi khas pesisir dengan penggunaan batu karang dan kayu sebagai material utama.

Tak hanya itu, ribuan artefak bersejarah turut ditemukan, termasuk keramik porselen asal Tiongkok. Penemuan tersebut semakin menegaskan kawasan itu pernah menjadi titik temu penting antara dunia Timur dan Barat dalam aktivitas perdagangan dan budaya.

Sejarah mencatat, kota Jeddah ditetapkan sebagai pelabuhan utama umat Islam oleh Khalifah Utsman bin Affan. Sejak saat itu, kota itu berkembang menjadi pintu gerbang strategis bagi para pedagang dan jemaah dari berbagai penjuru dunia.

Kini, Masjid Utsman bin Affan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari jalur wisata budaya di Jeddah. Keberadaannya merepresentasikan perpaduan antara nilai sejarah Islam dan upaya pelestarian warisan arsitektur yang terus dijaga hingga saat ini. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search