Matikan Kompor Setelah Matang: Pencerahan yang Terlambat Ribuan Tahun

*) Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes
Kepala Unit Kedokteran Islam FK UM Surabaya
www.majelistabligh.id -

Di sebuah peradaban yang telah mengenal api sejak zaman Penemuan Api, umat manusia akhirnya mencapai puncak intelektualnya: menyadari bahwa kompor sebaiknya dimatikan setelah masakan matang. Sebuah lompatan epistemologis yang, jujur saja, membuat Isaac Newton mungkin ingin menjatuhkan apel kedua.

Secara ilmiah, ini adalah revolusi. Selama ini kita hidup dalam asumsi liar bahwa api perlu terus menyala —mungkin untuk menjaga eksistensi, mungkin agar kompor tidak merasa kesepian. Namun kini, paradigma itu runtuh. Api ternyata bukan makhluk sosial.

Dari sisi termodinamika, keputusan mematikan kompor setelah matang adalah bentuk perlawanan terhadap entropi yang tidak perlu. Energi yang tidak dipakai adalah energi yang… yaa, memang tidak dipakai. Sebuah konsep yang begitu sederhana hingga hampir tidak lolos uji seminar.

Namun justru di situlah letak kejeniusan ironisnya. Dalam dunia yang sibuk dengan kendaraan listrik, panel surya, dan jargon net zero emission, solusi paling relevan ternyata adalah: “sudah matang, ya dimatikan.” Sebuah pendekatan low-tech yang nyaris menampar high-tech.

Secara medis, memasak terlalu lama bisa merusak nutrisi. Tapi mungkin ini juga metafora kehidupan modern: kita sering “overcook” banyak hal. Diskusi kecil jadi konflik nasional. Grup WhatsApp keluarga berubah jadi sidang pleno. Minyak goreng bukan hanya panas, tapi juga emosional.

Mari kita lihat dari perspektif perilaku manusia. Ada fenomena yang bisa kita sebut kompor inertia: begitu nyala, malas dimatikan. Mirip seperti membuka kulkas tanpa tujuan, atau membuka media sosial tanpa niat, lalu tiba-tiba sudah satu jam dan eksistensi dipertanyakan.

Dalam kerangka filsafat ala George Wilhelm Friedrich Hegel:
Tesis: Kompor dinyalakan.
Antitesis: Kompor tetap menyala.
Sintesis: Tagihan gas datang, lalu kita tercerahkan.

Ironinya, himbauan ini terasa seperti menemukan kembali sesuatu yang tidak pernah hilang. Seolah-olah selama ini ada komunitas rahasia yang sengaja membiarkan kompor menyala setelah matang demi menjaga stabilitas kosmik.

Namun di balik satir ini, ada kebenaran yang agak menyentil: kita memang sering butuh diingatkan untuk hal-hal paling dasar. Bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu sibuk menjadi rumit.

Maka, ketika kompor dimatikan tepat waktu, itu bukan sekadar hemat energi. Itu adalah simbol kemenangan kecil manusia atas kebiasaannya sendiri —kebiasaan untuk menunda, berlebihan, dan kadang… lupa bahwa yang sudah selesai, ya sudah.

Dan mungkin, di masa depan, kita akan mendapatkan pencerahan berikutnya: “Tidur kalau sudah ngantuk.” Sebuah inovasi yang siap mengguncang dunia. (*)

Tinggalkan Balasan

Search