Mbah Sutiah, 107 Tahun: Menapak Baitullah dengan Tekad dan Tawakal

www.majelistabligh.id -

Tubuhnya kecil, rapuh, dan digerogoti usia. Tapi semangatnya menjulang, menantang logika dan waktu. Mbah Sutiah Sunyoto, seorang perempuan sepuh asal Lampung Selatan, menorehkan kisah yang bukan hanya patut dihormati, tapi juga layak dikenang sepanjang masa.

Di usia 107 tahun, Mbah Sutiah bukan hanya menjadi jemaah haji tertua dari Indonesia tahun ini, tapi juga pelajaran hidup yang berjalan, tentang tekad, tentang kesabaran, dan tentang tawakal sejati kepada Sang Pencipta.

Pagi itu, Rabu (14/5/2025), kamar di Hotel Mesan Aldauliyah, Madinah, terasa begitu tenang. Di sudut ranjang, Mbah Sutiah duduk bersandar. Ia mengenakan daster hitam bermotif bunga dan jilbab polos.

Meski pendengarannya mulai redup dan penglihatannya tidak lagi tajam, suara Mbah Sutiah tetap lantang. Bahasa Jawanya kental. Senyumnya hangat menyambut siapa pun yang datang.

“Kabar baik. Sehat,” ujarnya singkat, tapi penuh makna.

Tak banyak yang menyangka, perempuan sepuh ini berangkat ke Tanah Suci seorang diri. Dalam kloter JKG 19, Kamis 8 Mei lalu, ia naik pesawat dari Lampung tanpa anak-anak yang mendampingi.

Namun bukan berarti dia sendiri. Mbah Sutiah menitipkan diri pada rombongan satu kampung yang sudah dikenalnya. “Dititipin anak-anak,” katanya santai.

Anak-anaknya, sembilan orang semuanya, telah menunaikan ibadah haji lebih dulu. Kini giliran sang ibu. Dengan segala daya yang tersisa, dia memenuhi panggilan ke Baitullah. Tak ada fasilitas istimewa. Tak ada sponsor. Tak viral. Yang ada hanyalah ketulusan seorang ibu desa, yang hidup dari tanah dan bertahan dari ladang.

Mbah Sutiah seoarang petani. Sejak muda, tangan keriputnya menanam padi, memanen jagung, membersihkan rumput liar di antara pematang sawah. Dari situ, sedikit demi sedikit, ia menabung. Anak-anaknya yang menyayangi dan menghormatinya, akhirnya mendaftarkannya untuk berhaji sejak 2012.

Dua belas tahun menunggu, satu dekade lebih memupuk harapan, hingga akhirnya pada usia 107 tahun, Allah menjawab doanya.

“Tani, nanem pari, jagung,” ujarnya bangga.

Bangga, bukan karena bisa naik pesawat atau melihat negara lain. Tapi karena impiannya untuk bersujud di Masjid Nabawi dan berziarah ke makam Nabi tercapai dengan penuh martabat.

Di usia yang bagi sebagian besar orang adalah waktu istirahat terakhir, Mbah Sutiah masih melantunkan ayat-ayat pendek Al-Qur’an yang ia hafal. Ia ikut pengajian sebelum berangkat, dan selama di Tanah Suci, tidak pernah lalai dari ibadah. Doanya sederhana, tapi menyentuh:

“Yang penting njaluk teng Pengeran.”
(Yang penting meminta pada Tuhan.)

Ia tidur sekamar dengan beberapa jemaah perempuan lain. Usia mereka terpaut jauh, tapi kasih sayang menghapus batas.

“Di sini semua jadi saudara, meski bukan keluarga,” katanya bijak. Teman sekamarnya, Liani, menyebut Mbah Sutiah tak pernah rewel. Makan cocok, tidur nyenyak, ibadah pun lancar.

“Ke Masjid Nabawi jalan kaki, 500 meter. Nggak pakai kursi roda. Masih kuat,” ucap Liani, takjub.

Ketika tim haji Indonesia memberi tahu bahwa dirinya adalah jemaah tertua tahun ini, Mbah Sutiah hanya tertawa kecil. Tidak terharu, tidak berlebihan. Tapi ada sorot bahagia yang sulit disembunyikan.

“Lho iya? Bangga,” jawabnya ringan.

Tapi kebahagiaan itu bukan karena ia menjadi berita. Melainkan karena janji kepada Allah, yang ia ucapkan sejak muda, di tengah hamparan sawah dan ladang, telah ia tunaikan. Mbah Sutoah berhasil datang ke rumah-Nya, meski harus melewati waktu panjang dan usia yang melemahkan fisik.

Kisah Mbah Sutiah adalah kisah tentang bagaimana cinta bisa menembus usia. Cinta kepada Allah, cinta kepada kehidupan yang sederhana, dan cinta kepada sebuah cita-cita yang tak pernah padam.

Dalam diam dan senyum tuanya, ada pesan yang dalam untuk kita semua: bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan iman, dan perjalanan seumur hidup yang dimulai dari ladang-ladang kecil di desa hingga ke pelataran Masjidil Haram.

Kisah ini adalah pengingat, bahwa sejauh apapun kita merasa tertinggal, selama ada tekad dan tawakal, tidak ada yang tidak mungkin.

Dari seorang perempuan desa berusia 107 tahun, kita belajar bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memenuhi panggilan suci, jika kita terus percaya, berdoa, dan berusaha. (afifun nidlom)

 

Tinggalkan Balasan

Search