Suatu pagi seseorang membuka ponselnya. Dalam beberapa detik ia sudah melihat teman yang baru saja lulus studi, rekan kerja yang mendapatkan promosi jabatan, seorang influencer yang memamerkan liburan mewah, dan seorang tokoh agama yang membagikan aktivitas ibadahnya.
Tanpa disadari, perasaan dalam dirinya mulai berubah: sedikit iri, sedikit tidak puas, dan mungkin juga keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya pun memiliki sesuatu yang layak untuk dipamerkan.
Fenomena ini bukan sekadar pengalaman pribadi banyak orang. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia untuk menilai dirinya dengan membandingkan kehidupan orang lain.
Psikolog Leon Festinger sejak lama menjelaskan bahwa manusia secara alami melakukan perbandingan sosial untuk memahami posisi dirinya di lingkungan. Namun di era media sosial, proses perbandingan ini terjadi hampir tanpa henti.
Setiap hari manusia melihat potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih religius. Paparan yang terus-menerus ini dapat memicu kecemasan, rasa tidak cukup baik, bahkan menurunkan kesejahteraan psikologis. Beberapa penelitian psikologi modern juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Menariknya, dinamika psikologis ini sebenarnya telah lama dibahas dalam tradisi keilmuan Islam melalui konsep penyakit hati. Para ulama klasik menjelaskan bahwa kerusakan perilaku manusia sering berawal dari kondisi batin yang tidak sehat. Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai penyakit hati yang dapat merusak kehidupan spiritual dan sosial manusia. Jika dilihat dalam konteks kehidupan modern, media sosial justru menyediakan ruang yang sangat subur bagi tumbuhnya penyakit hati tersebut.
Hasad di Era Perbandingan Sosial
Salah satu penyakit hati yang paling mudah muncul di ruang digital adalah hasad, yaitu rasa iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain. Media sosial menampilkan kehidupan dalam versi yang paling menarik. Foto kebahagiaan, pencapaian karier, atau keberhasilan spiritual sering ditampilkan tanpa memperlihatkan perjuangan dan kesulitan di baliknya. Akibatnya, seseorang dapat merasa kehidupannya sendiri tampak lebih kecil dibandingkan kehidupan orang lain yang terlihat di layar. Islam sejak awal telah mengingatkan bahaya perasaan ini. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54).
Dalam psikologi modern, perasaan iri yang terus-menerus berkaitan dengan meningkatnya stres psikologis dan ketidakpuasan terhadap hidup. Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, ia lebih mudah merasa gagal, tertinggal, rendah diri, atau tidak berharga.
Riya dan Pencarian Validasi Sosial
Selain hasad, media sosial juga membuka ruang luas bagi munculnya riya, yaitu keinginan untuk menampilkan diri agar mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Banyak aktivitas yang sebenarnya bersifat pribadi kemudian dipublikasikan agar mendapatkan respons sosial berupa likes, komentar, atau jumlah pengikut.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan kebutuhan akan validasi sosial. Manusia secara alami membutuhkan pengakuan dari lingkungan. Namun ketika harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada respons publik di media sosial, kondisi psikologisnya menjadi sangat rapuh. Islam memberikan peringatan keras terhadap perilaku riya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mendapatkan pujian manusia dapat secara perlahan menggeser orientasi spiritual seseorang.
Penyakit hati lain yang juga mudah berkembang di ruang digital adalah ujub, yaitu perasaan bangga berlebihan terhadap diri sendiri. Media sosial memberikan panggung yang luas bagi individu untuk membangun citra diri tertentu. Ketika seseorang terus-menerus menampilkan keberhasilan dan mendapatkan penguatan sosial dari lingkungannya, perlahan dapat muncul keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dari orang lain.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan pembentukan identitas yang sangat bergantung pada citra publik atau self-presentation. Masalahnya, identitas yang dibangun hanya dari citra digital sering kali rapuh. Ketika perhatian publik berkurang atau citra tersebut tidak lagi mendapat pengakuan, individu dapat mengalami krisis kepercayaan diri.
Penyakit Hati dan Kesehatan Mental
Menariknya, pembahasan tentang penyakit hati tidak hanya relevan dalam perspektif spiritual, tetapi juga memiliki kaitan dengan kajian psikologi modern. Penelitian yang dilakukan oleh Subandi (dalam artikelnya Al-Ghazali’s Concept of Diseases of the Spiritual Heart and Its Significance to the DSM-5-TR Diagnosis) menunjukkan bahwa berbagai konsep penyakit hati dalam tradisi Islam memiliki kesesuaian dengan konsep gangguan mental dalam sistem diagnostik psikologi modern.
Dalam penelitiannya, Subandi membandingkan konsep penyakit hati dalam karya Abu Hamid Al-Ghazali Ihya’ Ulumuddin dengan sistem klasifikasi gangguan mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR) yang digunakan dalam praktik psikologi dan psikiatri modern. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai penyakit hati yang dijelaskan oleh Al-Ghazali seperti iri, kesombongan, kemarahan berlebihan, dan cinta berlebihan terhadap pujian memiliki keterkaitan dengan berbagai gejala psikologis yang juga dikenal dalam kajian klinis modern. Dalam banyak kasus, kondisi-kondisi batin tersebut bahkan dapat menjadi faktor awal yang berkontribusi pada munculnya gangguan mental jika tidak dikelola dengan baik.
Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam sebenarnya telah lama memberikan perhatian terhadap kesehatan psikologis manusia, meskipun menggunakan bahasa dan kerangka konseptual yang berbeda.
Apa yang disebut sebagai penyakit hati dalam literatur tasawuf dapat dipahami sebagai kondisi batin yang tidak sehat, yang dalam psikologi modern sering dikaitkan dengan berbagai masalah regulasi emosi, harga diri, dan relasi sosial. Dalam konteks ini, fenomena media sosial menjadi semakin menarik untuk dikaji. Platform digital tidak hanya memengaruhi perilaku sosial manusia, tetapi juga dapat memperkuat berbagai dinamika psikologis yang telah lama dikenal dalam tradisi spiritual Islam.
Menjaga Kesehatan Hati di Era Digital
Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia tidak otomatis merusak manusia. Namun tanpa kesadaran spiritual dan psikologis yang cukup, ruang digital dapat memperbesar kecenderungan negatif dalam diri manusia. Di sinilah ajaran agama kembali menemukan relevansinya. Islam tidak hanya mengatur perilaku lahiriah, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap kondisi batin manusia. Konsep seperti ikhlas, syukur, tawadhu, dan qana’ah merupakan latihan batin yang membantu manusia menjaga keseimbangan psikologisnya.
Kesadaran terhadap penyakit hati membuat seseorang lebih reflektif ketika menggunakan media sosial. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia belajar menumbuhkan syukur. Ketika ingin menampilkan sesuatu kepada publik, ia belajar memeriksa niatnya. Serta ketika mendapatkan pujian, ia belajar menjaga kerendahan hati.
Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia di era digital bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan menjaga kejernihan hati di tengah dunia yang penuh dengan panggung dan perhatian. Media sosial mungkin merupakan fenomena baru, tetapi pergulatan batin manusia tetaplah sama. Apa yang dahulu dibahas dalam kitab-kitab klasik ternyata masih sangat relevan untuk memahami dinamika psikologis manusia modern. (*)
