*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Semua orang akan kembali pada Allah setelah matinya. Tapi berbahagialah dia yang telah melangkah menuju Allah sepanjang hidupnya.
(Sayyid Qutb)
Hidup adalah perjalanan yang digariskan memiliki dua rasa: manis dan getir, lapang dan sesak, suka dan duka, nikmat dan musibah; serta sabar dan syukur.
Tak seorang pun bisa lepas dari dua rasa itu, pun mereka yang dicintai-Nya. Makin agung nikmat, besar pula musibahnya.
Iman pun tak menjamin kita selalu berlimpah dan tertawa. Tapi ia menyediakan lembut elusan-Nya dalam apa pun dera yang menimpa.
Maka sabar dan syukur adalah wahana yang akan membawa hamba, menyelancari kehidupan nan berasa dua itu dengan iman di dalam dada.
Oleh hadirnya sabar dan syukur itulah, Nabi nyatakan betapa menakjubkan hidup dan ihwal orang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan.
Sebab atas musibah dia bersabar, dan sabar itu membuatnya meraih pahala tanpa hingga, dicintai-Nya, dan dibersamai Allah Subhanahu wa Ta’ala di segala rasa.
Sebab dalam karunia dia bersyukur; maka syukur itu membuat sang nikmat melekat, kian berganda berlipat, menenggelamkannya dalam rahmat.
Tapi hakikat sabar dan syukur sebenarnya satu saja; keduanya ungkapan iman untuk menyambut penuh ridha segala karunia-Nya, apa pun bentuknya.
Maka sabar adalah juga sebentuk syukur; dalam menyambut kurnia nikmat-Nya yang berbentuk lara, duka, nestapa, dan musibah yang niscaya.
Maka syukur adalah sebentuk sabar dalam menyambut kurnia musibah-Nya yang berupa kesenangan, kelapangan, kelimpahan, sesuka nan melena.
Maka tak ada kata henti untuk bersabar dan bersyukur; sebab ia dua tali yang hubungkan kita dengan-Nya; hingga hidup terasa surga sebelum surga.
“Jika sabar dan syukur itu dua kendaraan,” ujar Umar, “Aku tak peduli naik yang mana.” Keduanya berlintasan ridha-Nya; berjurusan surga.
Semoga bermanfaat. (*)
