“Forgiving is a choice, and that is a wise choice.”
(Memaafkan adalah pilihan, dan itu adalah pilihan yang bijak)
Di antara asma Allah al-Husna adalah al-’Afuw, artinya Allah Maha Pemaaf. Allah mengampuni kesalahan dan dosa seorang hamba yang Dia kehendaki. Namun ternyata, Allah juga menjadikan sifat pemaaf sebagai sifat para kekasih-Nya.
Di antara akhlak mulia para kekasih Allah, ialah mereka, orang-orang yang kita dapati sangat mudah memaafkan kesalahan manusia.
Mereka bersikap lapang dada atas kesalahan dan perbuatan zalim orang lain padanya. Pada diri mereka terlukis contoh sifat pemaaf terbaik.
Mereka memiliki sifat di antara sifat-sifat ahli Jannah, sebagaimana yang Allah firmankan,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(Yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran 134)
Mereka membalas kejahatan yang orang lain perbuat padanya dengan kebaikan. Memaafkan jika orang lain meminta maaf. Mereka dengan senang hati, akan membantu saudaranya yang telah menyakitinya.
Di antara orang-orang saleh, para kekasih Allah, yang mampu memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain kepadanya adalah Nabiyullah Yusuf alaihi shalatu wasallam.
Saudara-saudaranya membencinya sejak kecil. Iri kepadanya. Mereka berencana memisahkan Yusuf kecil dari tangan ayahnya. Diambillah darah kambing, lalu mereka robek jubahnya. Mereka berniat untuk membunuh nabi Yusuf dengan menjatuhkannya ke dalam sumur.
Beliau hidup menderita dibawa kafilah dagang ke negeri Mesir. Nun jauh di sana. Dijual sebagai budak dengan nilai yang teramat murah. Terhitung, peristiwa memilukan tersebut terjadi hampir empat puluh tahun lamanya. Ya, empat puluh tahun terpisah dari pelukan sang ayah.
Kemudian apa yang terjadi? Setelah Allah mengangkat Yusuf menjadi nabi. Setelah Allah membebaskannya dari perbudakan. Menjadikannya bendaharawan Al-Aziz, raja Mesir. Setelah negeri Mesir berada di bawah kekuasaannya. Dan saudara-saudaranya yang dahulu berusaha membunuhnya datang. Memohon belas kasihan.
Di saat Nabi Yusuf memiliki kuasa atas mereka, apa yang beliau katakan,
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)
Lihatlah akhlak nabi Yusuf, bahkan sebelum saudara-saudaranya meminta maaf, beliau sudah memberikan maaf. Bahkan memohonkan, agar Allah mengampuni mereka. Inilah contoh sifat pemaaf yang sesungguhnya.
Semoga bermanfaat. (*)
