Setelah masa jabatan atau posisi penting usai, tidak sedikit orang yang mengalami Post Power Syndrome (PPS)—kondisi di mana mereka merasa kehilangan arah, identitas, dan peran dalam kehidupan sehari hari.
Ini bukan sekadar soal gelar dan status, tapi lebih pada dampak psikologis: kehilangan pengakuan, merasa tak lagi berdaya, atau bahkan terjerat sifat kontrol berlebihan. Sayangnya, PPS bisa menimbulkan masalah pribadi sekaligus mengganggu organisasi yang mereka tinggalkan.
Awalnya tampak sepele: kehilangan gelar sebagai direktur, ketua, atau pemimpin. Namun, ketika identitas diri terlalu tergantung pada jabatan tersebut, pergantian peran bisa terasa seperti kehilangan bagian dari jati diri.
Ini bisa memicu krisis harga diri, kesepian karena lingkaran sosial menyusut, dan perasaan tidak berguna—apakah sudah waktunya pensiun, atau mencari panggung baru untuk merasa ‘berarti’?
Organisasi pun ikut terdampak. Ketika eks-pemimpin masih bertindak seolah masih berkuasa—membatasi kebijakan baru, memberikan pesan tak resmi lewat jaringan lama, atau mempengaruhi bawahan secara terselubung—transisi kepemimpinan bisa jadi kacau.
Tim baru kehilangan kepercayaan karena bayang-bayang lama, dan budaya inovasi terhambat oleh kecenderungan untuk kembali ke metode lama yang dianggap aman.
Dalam perspektif Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan milik pribadi. Allah berfirman:
Dan katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki…” QS. Ali Imran: 26).
Apa yang bisa dilakukan? Bagi individu, penting untuk menjalani masa transisi dengan menemukan peran baru—baik sebagai mentor, praktisi, atau penggiat kegiatan sosial. Memilih kegiatan bermakna di luar struktur formal sering membantu membangun kembali apresiasi diri.
Bagi organisasi, menyusun paket pensiun komprehensif sangatlah bijak: tidak hanya disengaja secara finansial, tapi juga mempertimbangkan aspek mental, sosial, dan peluang agar mantan pemimpin tetap memberi kontribusi positif tanpa mencampuri keputusan inti.
Post Power Syndrome bukan tanda kegagalan—melainkan fase yang memerlukan kesiapan dan strategi. Jika dilalui dengan bijak, ini bisa menjadi momentum untuk melepas jabatan tanpa kehilangan diri sendiri, dan memberi ruang bagi generasi baru berkembang.
Dan bagi organisasi, ini adalah panggilan agar mampu mendesain transisi yang sehat—menghasilkan kesinambungan tanpa cedera emosional.
Dalam hadist juga disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Jabatan adalah amanah. Dan pada hari kiamat, ia menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan amanah di dalamnya.” (HR. Muslim). (*
