*)Oleh: Angga Adi Prasetya, S.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 Malang Dan Sekbid Dakwah PDPM kota Malang
Ada satu cermin kejernihan yang memantulkan satu pertanyaan mendasar untuk kita hari ini:
Sudahkah kita membawa bekal sosial saat menapaki bahtera pernikahan maupun berkeluarga?
Di antara ribuan daftar kebutuhan, mungkinkah kita lupa menyisipkan bekal untuk bergaul dengan masyarakat?
Bekal untuk memahami hak-hak tetangga,
Bekal untuk hadir sebagai manfaat, bukan mudarat.
Bekal untuk menahan tangan dari menyakiti, menahan lisan dari menyulut api.
Bekal untuk menjadi penyejuk dalam lingkungan yang gersang dari nilai kebaikan.
Jika saja ketidakpedulian itu menyelamatkan, tentu diam adalah emas.
Tapi iman tak membiarkan kita egois,
Ia mendorong kita hadir — memberi, melayani, menyapa —
menjadi bagian dari masyarakat, bukan sekadar penghuni yang numpang lewat.
Imam Malik rahimahullah pernah mengatakan bahwa inti akhlak orang beriman terangkum dalam sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Muslim)
Dan saya kagum saat membaca hadis ini. Ternyata ukuran iman bisa dilihat dari cara kita memperlakukan orang-orang yang paling dekat secara fisik, namun sering kali paling jauh dalam perhatian: tetangga .
Mungkin kelak, nilai kita di hadapan Allah bukan ditentukan oleh panjangnya sujud atau indahnya bacaan,
tapi oleh kesaksian diam-diam dari mereka yang hidup paling dekat dengan kita.
Wajah mereka saat menyebut nama kita — senyum atau sinis — bisa jadi penentu di yaumil hisab.
Sayyid Quthb menulis dengan tajam dalam permulaan Juz ke-5 Fii Zhilaalil Qur’an,
bahwa seluruh syariat Islam bersumber dari satu akar: keimanan kepada Allah dan tauhid yang murni.
Dari sanalah lahir persepsi tentang hidup, tentang alam, tentang sesama manusia.
Dan semua itu saling terhubung, dari akidah menuju akhlak, dari keyakinan menuju interaksi,
dari ibadah menuju kepedulian sosial.
Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
(QS. An-Nisaa’: 36)
Ternyata, ketaatan vertikal kepada Allah tak bisa dipisahkan dari kebaikan horizontal kepada manusia.
Orang yang mentauhidkan Allah sejatinya adalah orang yang paling lembut kepada sesama.
Yang menyadari bahwa setiap senyum, salam, dan sapaan adalah bagian dari ibadah.
Sebaliknya, kekufuran dan kesombongan sering kali menjelma dalam bentuk dinginnya relasi sosial.
“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ…”
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.”
(HR. Muslim)
Kita merindukan sebuah masyarakat imani di mana orang merasa aman dari tangan dan lisan tetangganya.
Tempat di mana rumah-rumah saling menyambung dengan hati, jamaah salat menjadi sarana silaturrahim,
arisan menjadi majelis dzikir, gotong royong menjadi jihad kecil dalam kebersamaan.
Memang sulit dicari, tapi indah untuk dimulai dari diri sendiri. Jika rumah tangga kita dibangun di atas landasan ibadah, maka ranting-rantingnya akan memayungi lingkungan dengan dakwah.
قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه:
“أرضُ اللهِ واسعةٌ، فحيثُ وُطِئَتْ أقدامُكم، فالدعوةُ واجبةٌ.”
“Bumi Allah itu luas, dan di manapun kaki kalian berpijak, di sanalah dakwah menjadi kewajiban.”
(Umar bin al-Khaththab)
Maka tanyakan pada diri kita hari ini: Sudahkah visi pernikahan ataupun keluarga kita menyebut satu kata yang paling berat timbangannya di sisi Allah: dakwah ? Jika belum, maka semoga hari ini menjadi awal kita menyusunnya. (*)
