*)Oleh: Hogi (Abu Fahad) Caesar Budianto, Spd
Guru Al Qur’an SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik, Imam Masjid At-Taqwa PPS dan Mubaligh muda Muhammadiyah Jawa Timur.
Sebagai makhluk sosial, proses kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari interaksi dan pertolongan sesama. Seorang anak tidak mungkin lahir tanpa jasa seorang ibu dan peran seorang ayah. Hal ini merupakan sunatullah yang tidak dapat dihindari. Dengan semakin banyaknya jumlah manusia di muka bumi, semakin kompleks pula interaksi antarindividu, antar-etnis, bahkan antarbangsa.
Dalam realitas sosial, setiap orang akan berhadapan dengan beragam karakter manusia yang berbeda—baik dari segi kepribadian, budaya, maupun cara pandang. Perbedaan ini, ketika memasuki ranah interaksi sosial-budaya, bisnis, organisasi, atau bidang lain, kerap melahirkan problematika yang bahkan dapat bersifat sangat kompleks.
Islam mengajarkan agar setiap muslim mengedepankan hati nurani dalam menghadapi perbedaan. Hati nurani yang bersih mampu meminimalisir kesalahpahaman antarindividu maupun kelompok. Secara fitrah, hati manusia adalah suci; keburukan baru merasuk ketika hati terpengaruh oleh hawa nafsu dan bisikan setan.
Karena itu, seseorang yang senantiasa menjaga kebersihan hatinya akan tercermin dalam perilaku yang mengedepankan akhlakul karimah.
Salah satu indikasi kebersihan hati adalah tercermin dari ciri-ciri karakter ahli surga sebagaimana disabdakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
“إِنَّ اللهَ يُحِبُّ العَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيَّ الخَفِيَّ الحَيِّنَ اللَّيِّنَ”
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, tersembunyi (tidak mencari popularitas), bersifat tenang, dan lembut. (HR. Muslim)
Hadis ini mengandung panduan moral yang mendalam:
- Takwa
Rasa takut dan pengagungan kepada Allah akan menjadikan seorang hamba berhati-hati dalam segala interaksi, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Seorang yang bertakwa tidak gegabah mengambil keputusan yang dapat merugikan orang lain.
- Qana‘ah
Sifat merasa cukup dengan pemberian Allah menjauhkan seseorang dari penyakit hati seperti iri (hasad) dan tamak. Dengan qana‘ah, seorang muslim mampu menjaga kedamaian batin dan menghindari konflik akibat perebutan kepentingan duniawi.
- Ketenangan
Sifat tenang mengajarkan seseorang untuk menyikapi permasalahan dengan kepala dingin. Dalam konteks hubungan sosial. Hal ini mendorong tercapainya solusi yang saling menguntungkan (win-win solution). Ia yakin bahwa bersama Allah setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.
- Kelembutan
Orang yang lembut hati akan mudah memaafkan, tidak mudah terbakar amarah, serta menahan diri dari menyakiti orang lain. Sifat ini merupakan salah satu fondasi persatuan dan keharmonisan masyarakat.
Dengan demikian, membersihkan hati dan mengasah sifat-sifat tersebut bukan sekadar pembinaan pribadi, tetapi juga investasi sosial yang memperkuat jalinan ukhuwah. Di tengah perbedaan yang menjadi keniscayaan hidup, karakter ahli surga menjadi solusi preventif dan kuratif bagi kompleksitas hubungan antar manusia. (*)
