Sebaliknya, ketika menolak bertauhid dan memberhalakan selain Allah, maka pentunjuk akan menjauh dan Allah membiarkan manusia mudah terjerumus dalam penyimpangan dan lahir berbagai keburukan. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah ṭagūt itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Naĥl :36)
Allah menunjukkan bahwa konsekuensi manusia yang menolak tauhid, hawa nafsu akan menjadi sandaran. Ketika hawa nafsu menjadi parameter, maka hidupnya dikontrol oleh syahwat dan angan-angan kosong yang akan membimbingnya ke dalam kebinasaan.
Apa yang terjadi dalam tragedi Los Angeles (LA) bisa menjadi contoh yang realistis dimana ketika datang bencana kebakaran, menganggapnya sebagai gejala alam atau hasil rekayasa sosial manusia. Disini peran Tuhan dihilangkan ketika hawa nafsu menjadi ukuran kebenaran.
Memperolok Ajaran
Menganggap bencana sebagai gejala alam biasa, atau hasil rekayasa manusia, menunjukkan kesombongan sekaligus kekejaman manusia.
Betapa tidak, bencana kebakaran yang menghabiskan satu kota dipandang sebagai gejala alam biasa atau rekayasa manusia. Hal ini sama saja menolak keberadaan Tuhan.
Datangnya bencana yang meluluhlantakkan properti beserta kekayaannya serta mendatangkan derita, dipandang sebagai hasil rekayasa sosial. Hal ini menunjukkan kesombongan dan kekejaman manusia.
Dikatakan kesombongan karena menganggap bahwa kebakaran itu sebagai hasil karya manusia, sehingga peran Tuhan tidak ada. Dikatakan kekejaman karena mereka tega membunuh sesamanya demi mewujudkan rencana jahat yang lain.
Dua sifat ini (kesombongan dan kekejaman) ingin dijauhkan dari manusia dan terus didakwahkan para rasul, dengan mentauhidkan Allah.
Alih-alih diterima, dakwah para nabi ini senantiasa ditolak dan bahkan diperolok-olokkan oleh kaumnya. Hal ini sebagaimana dipaparkan Al-Qur’an sebagaimana frman-Nya :
وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَأَمۡلَيۡتُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡ ۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ
“Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu! (QS. Ar-Ra`d :32)
