Akibat memperolok-olok ajaran itu, dengan meniadakan peran Tuhan. Ketika kesombongan itu memuncak dan mereka bebas melakukan apa saja, maka Allah pun membuat mereka tanda sadar atas apa yang dilakukan selama ini.
Bahkan di puncak bencana yang disebabkan oleh kemaksiatan yang melampaui batas, mereka masih mereka sombong dan menjauh dari petunjuk.
Allah benar-benar menyesatkan dan menyusutkan hati mereka dari petunjuk, sehingga mereka semakin berutal dan terbuka dalam melakukan kemaksiatan. Hal ini dinarasikan dengan baik sebagaimana dirman-Nya :
إِن تَحۡرِصۡ عَلَىٰ هُدَىٰهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَن يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. (QS. An-Naĥl : 37)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu”, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (QS. Al-Munāfiqūn :5). (*)
Surabaya, 20 Januari 2025
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
