Membuka Memori di Masjid Al Falah Surabaya

www.majelistabligh.id -

Masjid Al Falah juga sebagai pusat pendidikan agama dan pengembangan masyarakat. Saya masih ingat bagaimana masjid ini menjadi tempat pertama saya mendengar ceramah yang begitu menggugah, yang sering kali memberi saya inspirasi dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Beberapa penceramah yang saya tahu di antaranya: KH. Abdurrahim Nor, KH. Zaki Gufron, KH Munawar Zein KH. Misbach, H. Bey Arifin, KH. Muamal Hamidy, KH. Munawar Thohir, Prof. Roem Rowi, H. Kholid Abri, KH. Syakur Thawil, dr. H. Kabat, H. Muhammad Muqoddas, KH. Sunan Karwalib, Prof. Fuad Amsyari, dan H. Muhammad Taufiq AB. Kala itu, Ketua Takmir Masjid Al Falah masih dijabat H. Syamsuri Mertoyoso.

Nama Remaja Masjid Al Falah (RMA) dulu juga sangat dikenal. Banyak sekali kegiatan digelar, dari skala lokal, nasional, maupun internasional. Nama-nama tokoh RMA yang dulu saya kenal seperti Hasan Syadzili, Nur Hidayat, Herry Mohammad, Achmad Sujai, Rahmat, Achmad Zuhdi DH, Yasin Tatisina, Masrukin, Imam Hambali, dan lainnya.

Pada akhir dekade 1980-an, Masjid Al Falah punya acara pengajian umum bulanan oleh Cendekiawan Muslim Al Falah yang dimotori Prof Fuad Amsyary (kini sudah almarhum) dengan mendatangkan penceramah dan tokoh nasional. Dari kegiatan ini kemudian menjadi episetrum gerakan kaum cendekiawan berbasis kampus yag bergeliat saat itu, lalu bermuara pada berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Iniversitas Brawijaya Malang, pada 7 Desember 1990.

Yang unik dari Masjid Al Falah, bias di kota lain aktivitas gerakan kaum cendekiawan berpusat di masjid kampus, seperti Masjid Salman di ITB atau Masjid Salahuddin di UGM. Di Surabaya tidak di masjid Unair, ITS, IAIN, atau lainnya, tapi di Masjid Al Falah. Ini membuktikan bahwa Masjid Al Falah berwatak inklusif, sebagaimana ditunjukkan pada ruang utama yang terbuka tanpa pilar-pilar pemisah.

Membuka Memori di Masjid Al Falah Surabaya
Masjid Al Falah dari tampak depan. foto: masjidalfalah.or.id

Kesan lain yang masih melekat di ingatan saya adalah suasana ukhuwah yang begitu terasa di masjid ini. Setelah salat berjamaah, para jamaah sering berbincang-bincang, berbagi cerita, atau sekadar bertanya kabar. Ada kehangatan yang jarang saya temukan di tempat lain.

Kenangan itu terus hidup dalam ingatan saya. Meskipun kini saya sudah tidak lagi tinggal di dekat masjid tersebut, namun setiap kali saya melewati Jalan Darmokali atau mendengar nama Masjid Al Falah, perasaan nostalgia itu kembali menyeruak. Masjid ini bukan hanya menjadi bagian dari sejarah hidup saya, tetapi juga menjadi saksi perjalanan spiritual saya yang terus berlanjut hingga hari ini.

***

Azan dikumandangkan, usai khatib naik mimbar lalu mengucapkan salam. Para marbot masih sibuk mengatur shaf. Jamaah yang baru hadir dipersilakan memenuhi tempat yang masih kosong. Suasana Masjid Al Falah nampak khusyuk. Beberapa anak kecil tampak duduk di barisan belakang, ditemani orang tua mereka.

Saya berada di shaf bagian tengah, duduk rapi bersama jamaah lainnya, mendengarkan khotbah Jumat yang saat itu disampaikan Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Shahab, M.Sc. Beliau seorang Guru Besar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya.

Saya mengenal Abdullah Shahab bukan hanya dari ceramahnya, tetapi juga karya tulisnya. Terutama karya tulisnya yang banyak membahas nilai-nilai Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam khotbahnya kali ini, Prof. Abdullah Shahab membahas tema “Meningkatkan Kualitas Hidup Berbasis Ilmu”. Kata-kata beliau terasa begitu mendalam dan menggugah hati. Saya mencatat poin-poin ceramahnya dalam smartphone. Salah satu pernyataan yang beliau sampaikan: “Kesombongan bukanlah sifat yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang diberikan ilmu oleh Allah. Makanya, kalau ada manusia sombong, berarti dia tidak tahu eksistensinya.”

Beliau juga menyampaikan, dalam Islam, ilmu mendapat tempat yang sangat tinggi. Meskipun seorang ilmuwan telah meninggal, ilmu yang ditinggalkannya akan tetap dikenang dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Khotbah Abdullah Shahab mengalir seperti aliran air, jernih, dan menyegarkan pikiran. Saya merasa, di tengah keramaian kota yang sering kali melupakan nilai-nilai ini, pesan beliau adalah pengingat yang penting.

Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Search