Di era media sosial, politik bukan lagi hanya soal debat di televisi atau orasi di mimbar. Ia telah berubah menjadi visual, menjadi potongan meme, dan kadang menjadi lelucon.
Salah satu contoh paling viral dan kontroversial adalah meme Jokowi dan Prabowo berciuman, yang jelas bukan gambar nyata, melainkan hasil rekayasa digital dengan pesan yang tidak sesederhana yang tampak.
Bagi sebagian orang, meme itu lucu. Bagi yang lain, itu keterlaluan. Tapi satu hal pasti: meme itu menggambarkan sesuatu yang dirasakan publik, tapi tak selalu bisa diucapkan langsung—yakni kebingungan, kejengkelan, dan ketidakpastian terhadap lompatan politik yang dianggap “tak masuk akal”.
Dulu Jokowi dan Prabowo adalah rival. Debat panas. Pendukung saling serang. Tapi tiba-tiba, satu jadi presiden, satu jadi menteri pertahanan.
Secara psikologis, ini disebut disonansi kognitif—perasaan tidak nyaman saat dua hal bertentangan harus diyakini sekaligus. Dan dalam budaya digital, ketidaknyamanan itu sering diekspresikan lewat satir, termasuk meme ekstrem.
Meme semacam ini sering dipahami sebagai bentuk kritik, bukan sekadar lelucon. Ia menyindir bahwa hubungan politik kadang begitu cair dan pragmatis, hingga terasa “berlebihan” jika dibandingkan dengan luka dan perpecahan yang sudah lebih dulu ditinggalkan di masyarakat bawah.
Dengan kata lain, rakyat disuruh lupa, sementara elite dengan cepat berdamai.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa gambar seperti ini juga melanggar batas sensitivitas budaya dan agama. Di Indonesia yang masih konservatif, menampilkan dua pria—terlebih tokoh nasional—berciuman adalah provokasi visual. Ia bisa dianggap tidak etis, bahkan bisa menimbulkan fitnah jika disalahpahami oleh mereka yang tidak tahu konteksnya.
Islam mengajarkan adab dalam menyampaikan kritik. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Bukan berarti kritik dilarang. Tapi cara menyampaikannya seharusnya tetap menjaga kehormatan orang lain. Meme seperti ini mungkin punya niat menyindir kekuasaan, tapi tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab publik.
Meme Jokowi dan Prabowo adalah potret zaman. Ia bukan sekadar gambar tempelan lucu. Ia adalah cara rakyat bicara, ketika bahasa formal tak cukup kuat.
Tapi dalam menyuarakan keresahan, kita pun perlu bertanya: apakah kita sedang mengoreksi keadaan, atau malah melukai tanpa sadar?
Karena di balik tawa dan tepuk tangan di kolom komentar, ada nilai-nilai yang tak boleh hilang: adab, akal sehat, dan etika. (*)
