Memperingati 90 Tahun Buya Syafii: Menumbuhkan Semangat Kesetaraan Lewat Dialog

www.majelistabligh.id -

Dalam rangka memperingati 90 tahun tokoh bangsa Buya Ahmad Syafii Maarif, Anakpanah.id bersama MAARIF Institute dan SaRanG mengadakan sebuah Dialog Interaktif di SaRanG Art Spacepada, pada Sabtu (31/5/2025).

Acara ini mengangkat tema pemikiran dan keteladanan Buya dalam mendorong kesetaraan gender, serta dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dalam sambutannya, Yahya Fathurrozi dari MAARIF Institute menyampaikan apresiasi atas kontribusi komunitas-komunitas yang terus menjaga semangat dan nilai-nilai perjuangan Buya.

“Ada 15 komunitas yang aktif mengikuti jejak pemikiran Buya, termasuk lima di Yogyakarta. Di NTB, terdapat Rumah Singgah Buya untuk ibu hamil, dan di Manado berdiri Madrasah Intelektual Syafii Maarif. Ini semua adalah wujud cinta dan penerusan gagasan Buya,” ujarnya.

Erik Tauvani Somae dari Anakpanah.id juga mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, terutama SaRanG sebagai tuan rumah. Ia menekankan bahwa kesetaraan yang diperjuangkan Buya tercermin dalam kesehariannya.

“Buya menghidupkan kesetaraan gender dalam praktik. Ia mencuci, memasak, dan berbelanja sendiri. Tidak ada pembatasan peran di rumahnya. Semua dijalani dengan sikap yang terbuka dan penuh kemanusiaan,” jelas Erik.

Diskusi ini menghadirkan dua tokoh penting: Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur sekaligus Ketua Jaringan Gusdurian, dan Alimatul Qibtiyah, Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga.

Dalam pemaparannya, Alissa Wahid menyoroti kemiripan pandangan antara ayahnya dan Buya. “Buya pernah bilang, kalau saya tidak kenal Gus Dur, mungkin saya bisa jadi radikal,” kenangnya.

Ia menambahkan bahwa keduanya memulai dari pendekatan keislaman yang konservatif, namun berkembang menuju pemikiran yang lebih adil dan humanis.

“Baik Gus Dur maupun Buya berpegang pada prinsip, bukan pada jabatan atau afiliasi,” ujarnya. Buya, menurutnya, adalah sosok yang konsisten antara apa yang ia pikirkan, katakan, dan lakukan.

Senada, Alimatul Qibtiyah mengenang bagaimana Buya mendorongnya untuk tetap aktif di organisasi ‘Aisyiyah meski ada tantangan.

“Buya yang menyemangati saya masuk Komnas Perempuan. Ia menekankan bahwa Islam harus punya fungsi nyata, bukan hanya tampilan luar. Dalam rumah tangga pun, beliau menjadi suami yang aktif terlibat dalam kerja domestik dan reproduksi, serta memberikan ruang yang setara,” katanya.

Alim juga menggarisbawahi perlunya memisahkan ajaran Islam dari budaya patriarkal yang sering membatasi perempuan.

“Banyak hak perempuan terampas karena tafsir agama yang tidak tepat. Kita harus kembali ke nilai-nilai Al-Qur’an, bukan tradisi semata,” tegasnya.

Menutup sesi, Alim mengajak peserta untuk berani menyuarakan kebenaran meski berbeda dari arus utama.

“Buya mengajarkan bahwa tampil berbeda memang berat, tapi selama itu sesuai nilai kebenaran, kita harus berani. Kezaliman tumbuh bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena orang baik yang memilih diam,” ujarnya.

Sementara itu, Alissa mengajak generasi muda untuk menjaga dan melanjutkan warisan intelektual Buya.

“Kita adalah generasi beruntung yang pernah berinteraksi dengan Buya, baik langsung maupun melalui karyanya. Beliau adalah berlian Indonesia, dan kita punya tanggung jawab untuk terus menjaga kilaunya,” tutupnya. (salma)

Tinggalkan Balasan

Search