Bulan dzulqa’dah adalah momentum besar, bulan spesial, waktu yang istimewa untuk menambah pundi pundi pahala seorang hamba yang cinta dengan pertemuan Rab-Nya.
Bulan Dzulqa’dah kurang mendapatkan perhatian besar oleh sebagian Masyarakat. Mereka menganggap hari hari itu biasa biasa saja tetapi di sisi Allah bulan dzulqa’dah sangatlah istimewa.
Dikatakan Istimewa karena penuh peluang untuk beramal sholeh.
Mengagungkan Dzulqa’dah
Para ulama terdahulu sangat mengagungkan bulan ini. mereka mengagungkan sebagaimana anjuran dari Allah. Oleh karenanya, agungkanlah apa yang telah Allah agungkan seperti yang disampaikan Imam Qatadah:
وقال قتادة: فعظموا ما عظم الله، فإنما تعظم الأمور بما عظمها الله عند أهل الفهم وأهل العقل.
“Qatadah berkata: ‘Agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah, karena sesungguhnya sesuatu itu menjadi agung karena Allah telah mengagungkannya di sisi orang-orang yang berakal dan berfikir.'” (Tafsir al-Thabari)
الموفق من وفق لعمل وقته
“Hamba yang mendapatkan taufik adalah hamba yang ditunjukkan beramal pada waktunya.”
Hal ini menegaskan bahwa momentum itu penting, berharga sehingga inilah salah satu momentum selama satu tahun yang kita harus manfaatkan untuk beramal saleh di bulan dzulqa’dah.
Berkata Imam Qatadah:
العمل الصالح أعظم أجوره في الأشهر الحرم
“Pahala terbesar yang didapatkan seorang hamba jika ia mengerjakannya di bulan bulan haram.”
Hal ini juga selaras dengan perkataan sahabat Abdullah bin Abbas berikut:
العمل الصالح إذا عمل العبد في الأشهر الحرم فيحصل على أعظم الأجور
“Amalan shaleh itu semakin dilipat gandakan Allah di bulan bulan haram.”
Oleh karena itu, ini kesempatan menambah porsi dalam ibadah setelah kita mengalami penurunan di bulan Syawal. Maka bangkit dan semangat karena kita sekarang masuk di pintu yang baru, yaitu Dzulqa’dah.
فعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ قَالَ: «إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ» رواه البخاري
“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut: Dzulqodah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta bulan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Amalan yang Dianjurkan
Di antara amalan yang ditekankan di bulan Dzulqa’dah adalah memperbanyak puasa sunnah. Ini adalah pandangan mayoritas ulama. Imam Ibnu Rajab berkata:
وقد كان أكثر السلف يصومون في الأشهر الحرم
Ulama-ulama klasik dahulu sahabat tabiin dan tabiat tabiin kebanyakan mereka berpuasa di bulan bulan haram. Di antaranya adalah Sahabat yang mulia abdullah bin Umar, kemudian Hasan Al Basri, Abu Ishaq. Berkata Imam AtTsaur :
الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم
“Bulan bulan haram adalah bulan yang paling aku cintai untuk berpuasa.”
Maka kita bisa berpuasa Senin Kamis, Ayyamul Bid, puasa Daud dan amal- amal shaleh lainnya berzikir, sedekah, membantu orang lain, berakhlak mulia Karena itu semua pahalanya Allah lipat gandakan.
Berkata Anas bin Malik:
قَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «اعْتَمَرَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِن الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ». (متفق عليه).
“Rasulullah saw melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzulqodah, kecuali umrah yang dilakukan bersama haji: umrah Hudaibiyah di bulan Dzulqodah, umrah di tahun berikutnya di bulan Dzulqodah, umrah dari Ji’rana di mana beliau membagi ghanimah (harta rampasan perang) Hunain di bulan Dzulqodah, dan umrah bersama haji.'” (Muttafaqun ‘alaih)
Maka, umrah di bulan Dzulqa’dah adalah sunnah, karena Nabi melaksanakan umrahnya di bulan Dzulqodah.
Kebanyakan terdahulu lebih mengutamakan umrah di bulan dzulqa’dah daripada di bulan Ramadan dalam rangka mengikuti Nabi.
Tidak berhenti sampai di situ, semoga kita mendapatkan pahala yang disabdakan nabi yaitu yang dikeluarkan oleh muslim nabi bersabda
العبادة في الخرج كهجرتي إلي
“Ibadah di zaman fitnah, di waktu lalai kebanyakan manusia maka pahalanya sebesar hijrah kepada nabi.”
Maka inilah salah satu kesempatan mendapatkan pahala hijrah kepada nabi. Maka bacalah quranmu kembali, khatamkan lah.
Tidak boleh malas menuntut ilmu, lakukan kebaikan karena ini adalah bulan yang istimewa. Di samping itu para ulama menjelaskan bahwa setiap dosa akan dilipat gandakan.
Allah SWT berfirman :
فلا تظلموا فيهن أنفسكم
“Maka janganlah kalian berbuat dzalim terhadap diri diri kalian.”
Berkata para ulama:
والظلم فيهن أعظم من الظلم سواهن.
“Berbuat dosa di bulan bulan haram adalah lebih fatal, lebih parah daripada di bulan bulan lainnya.”
Kita patut berhati hatilah dari doa syirik, kekufuran, riya, ingin dipuji orang, ingin dihargai orang, membantah kepada suami, pelit terhadap istri karena ini adalah Dzulqodah adalah waktu yang salah untuk menggampangkan dosa.
Berbuat dosa di bulan Dzulqa’dah adalah bahaya, menakutkan karena setiap dosa akan dilipatgandakan. Dan di antara kemuliaan bulan Dzulhujjah adalah bulan tersebut adalah bulan bulan haji.
Allah SWT berfirman:
الحج أشهر معلومات
“Haji itu dilaksanakan di bulan bulan yang sudah diketahui.”
Maka hikmah disyariatkan haji, mutiara mutiara, pengalaman yang bisa diambil dari ibadah haji. Spirit haji harus ada di bulan Dzulqa’dah.
Maka, Dzulqodah adalah momentum untuk meresapi ibadah ibadah haji. Maka kita harus bumikan, kita patut kampanyekan bulan Dzulqodah adalah bulan yang mulia seperti halnya bulan Ramadhani adalah bulan puasa dan spesial. Berkata Ibnu Rajab di kitabnya Lataiful Maarif.
ولم يكن أكثر تطوع النبي صلى الله عليه وسلم وخواص أصحابه بكثرة الصوم والصلاة بل ببر القلوب وطهارتها وسلامتها وقوة تعلقها بالله خشية له ومحبة وإجلالا وتعظيما ورغبة فيما عنده وزهدا فيما يفنى
“Dan tidaklah Nabi dan para sahabat pilihan-Nya memperbanyak amalan sunnah dengan banyak puasa dan salat, tetapi dengan kebaikan hati, kesucian hati, dan keselamatan hati, serta kekuatan hubungan hati dengan Allah, karena takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, mengagungkan-Nya, memuliakan-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya, dan zuhud terhadap apa yang akan fana.”
Pelajaran bagi kita Khususnya di bulan haram hendaknya kita prioritaskan amalan hati kita, kuatkan tawakal kita terhadap Allah, dan berjuang dengan totalitas terhadap kebersihan hati kita dari segala penyakitnya.
Inilah hal yang harus kita tekankan di bulan Dzulqa’dah. (*)
Surabaya, 29 April 2025
