Menag: Majelis Taklim dapat Mengurai Kekusutan Pikiran Umat

Menag Nasaruddin Umar dalam peresmian majelis taklim KOZMA, (ist)
www.majelistabligh.id -

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai bahwa majelis taklim bukan sekadar sebagai tempat berkumpul dan mencari ilmu, melainkan sebagai wadah spiritual untuk mengurai berbagai problematika umat. Hal ini disampaikan Menag dalam peresmian Majelis KOZMA yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, Ahad (05/04/2026).

Kehadiran Menag di tengah jemaah ini sekaligus menjadi momentum penguatan peran majelis taklim dalam membangun spiritualitas dan kohesi sosial masyarakat pasca-Ramadan. ​Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa Majelis KOZMA harus menjadi wadah yang “berkelas”.

Menag mengaitkan nama KOZMA dengan akar kata bahasa Arab Qasama yang bermakna pembagian atau kelas, yang dalam konteks sosial berarti sebuah perkumpulan yang istimewa dan memiliki kualitas tinggi dalam memberikan pencerahan kepada umat.

​”Majelis ini adalah tempat yang berkelas, atau dalam bahasa Inggris disebut perfect. Artinya, pengajian di sini harus mampu menjadi solusi bagi kebuntuan pikiran dan kekusutan hati jemaah dan masyarakat,” ujar Menag saat memberikan ceramah.

​Menag juga memberikan apresiasi khusus kepada Ustadz Solmed sebagai pengasuh Majelis KOZMA. Menag menyebut sang ustadz sebagai representasi guru dari kalangan muda. Menurutnya, sosok pendidik agama saat ini tidak hanya dilihat dari usia senioritas, melainkan dari kedalaman substansi dan kebermanfaatan pesan yang disampaikan kepada generasi muda.

Menag juga mengajak jemaah untuk memahami esensi bulan Ramadan yang baru saja berlalu. Ia menjelaskan bahwa Ramadan “membakar” dosa-dosa vertikal kepada Tuhan, telah hangus bagi mereka yang taat. Namun, dosa horizontal antar-manusia hanya bisa tuntas melalui keikhlasan untuk saling memaafkan melalui momentum seperti ini.

​”Allah telah menghalalkan atau mengampuni dosa kita kepada-Nya. Namun, dosa sesama manusia, tidak akan selesai kecuali kita saling melepaskan rasa bersalah satu sama lain. Itulah inti dari halalbihalal yang kita laksanakan hari ini,” tegas Menag menjelaskan esensi halalbihalal.

​Sebagai penutup ceramahnya, Menag memberikan pesan tentang bakti kepada orang tua. Ia menegaskan bahwa doa anak saleh adalah jembatan keberkahan yang tidak terputus oleh kematian. Ia mengajak jemaah untuk selalu menyertakan orang tua dalam setiap selawat dan doa yang dipanjatkan di majelis tersebut. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search