Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan peran penting santri dan pondok pesantren sebagai pilar utama dalam dakwah Islam yang menyejukkan. Selain pandai berorasi, Menag minta santri menjadi teladan di tengah masyarakat.
Hal ini disampaikan Menag saat memberikan Orientasi Mubaligh dan Imam Tarawih 1447 H di Kampus IV Ponpes As’adiyah, Wajo, Senin (9/2/2026).
Menag menegaskan bahwa mubaligh lulusan pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah institusi pendidikan Islam dengan mengedepankan kualitas isi dakwah dan keteladanan.
“Menjadi seorang mubaligh bukan sekadar pandai berorasi, tetapi menjadi teladan (uswah) bagi masyarakat. Tantangan dakwah ke depan semakin kompleks. Masyarakat tidak lagi hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi mereka melihat apa yang kita lakukan,” ujar Menag.
Menag menggarisbawahi bahwa kekuatan utama pendidikan pesantren terletak pada penanaman nilai keikhlasan. Dalam menghadapi dinamika di lapangan, para mubaligh diingatkan untuk menjaga integritas dan tidak membiarkan marwah dakwah terikat oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek atau pemberian yang dapat mencederai independensi seorang pendakwah.
“Keikhlasan adalah fondasi paling dasar sekaligus penentu diterima atau tidaknya sebuah amal. Dakwah itu harus mengosongkan hati dari tujuan selain Allah Swt. Kita harus sangat berhati-hati dengan integritas. Jangan sampai pemberian (yang tidak jelas asalnya) mengikat integritas kita. Kita harus menjaga marwah sebagai pendakwah,” tegas Menag.
Terkait pelaksanaan ibadah di bulan Ramadan, Menag mengimbau para imam tarawih dan mubaligh untuk memahami kondisi psikologis dan fisik jamaah. Syiar Ramadan melalui kultum dan ceramah diharapkan singkat, padat, namun memberikan pencerahan yang substantif bagi peningkatan akhlak umat.
“Jadilah mubaligh yang menyejukkan. Jangan gunakan mimbar untuk memecah belah, tapi gunakanlah untuk merekatkan persaudaraan (ukhuwah). Islam yang kita bawa adalah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin, Islam yang moderat, dan menghargai keberagaman,” tambah beliau.
Melalui program orientasi ini, Menag berharap para santri yang terjun ke masyarakat dapat menjadi duta pesantren yang menyebarkan nilai-nilai Islam damai, sekaligus memperkuat ketahanan mental umat dalam menjalani ibadah puasa. Pesantren diharapkan terus menjadi gudang lahirnya ulama dan pemimpin umat yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. (*/tim)
