Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah melaksanakan wukuf di Arafah dan pelemparan jumrah aqabah dengan lancar. Dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat, 10 Dzulhijjah, pukul 18.00 waktu Arab Saudi (WAS), usai melontar jumrah Aqabah di Jamarat, Menag menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran prosesi haji tahun ini.
“Saya pastikan tidak ada satu pun jemaah kita yang tidak berangkat ke Arafah. Kecuali yang dirawat di rumah sakit dan memang tidak bisa bergerak, itu pun sudah dibadalkan semuanya,” ujar Menag.
Menurutnya, para jemaah yang sakit, lanjut usia, dan difabel tetap mengikuti safari wukuf sesuai syariat. Tidak ada yang luput dari pelaksanaan rukun haji yang utama tersebut.
Menag juga mengabarkan bahwa pada pagi hari, Jumat (6/6) pukul 09.00 waktu setempat, seluruh jemaah Indonesia telah meninggalkan Muzdalifah menuju Mina dengan aman.
“Alhamdulillah semua jemaah sudah masuk tenda. Meski ada yang sempat salah masuk tenda, yang penting aman dulu, masuk tenda ber-AC, makan, dan lanjut melontar jumrah,” jelasnya.
Ia mengapresiasi Pemerintah Arab Saudi atas kemudahan dan perhatian khusus yang diberikan kepada Indonesia, termasuk kemudahan akses ambulan.
Menag juga menyampaikan kabar menggembirakan terkait penurunan angka kematian jemaah haji Indonesia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini hingga hari H, jumlah jemaah wafat baru sekitar 150 orang. Bandingkan dengan tahun lalu 400 orang, dan 2023 hampir 800,” ungkapnya.
“Semoga tidak ada lonjakan signifikan hingga akhir pelaksanaan haji,” imbuhnya.
Meski puncak haji telah selesai, Menag mengingatkan jemaah agar tetap waspada terhadap medan dan suhu ekstrem di Mina yang mencapai 50°C.
“Jangan pandang enteng jarak yang terlihat dekat, nyatanya bisa sangat melelahkan. Hindari keluar tenda dari jam 10 pagi hingga 4 sore,” tegasnya.
Ia mengajak jemaah untuk menaati seluruh instruksi petugas, memaksimalkan ibadah di dalam tenda dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an.
Menag juga mengingatkan makna mendalam dari ritual haji, khususnya lempar jumrah yang bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi simbol spiritual.
“Setan yang kita lempar itu bukan hanya makhluk ghaib, tapi juga hawa nafsu kita sendiri. Kita belajar dari Nabi Ibrahim dan Ismail, tentang pengorbanan atas sesuatu yang paling dicintai,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh jemaah untuk meninggalkan sifat-sifat buruk selama melontar jumrah—seperti amarah, pelit, iri hati, suka adu domba, dan membuka aib orang lain.
“Gugurkan semua keburukan di sini. Mari pulang ke tanah air dalam keadaan fitrah dan suci. Itulah yang akan menyelamatkan kita, insyaallah,” tutup Menag dengan penuh haru. (afifun nidlom)
