Puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Menurut dr. Mariyam Abdullah, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), puasa membantu meningkatkan metabolisme dan mendukung proses detoksifikasi dalam tubuh.
Saat seseorang berpuasa, terjadi perubahan metabolisme yang menguntungkan, salah satunya adalah peningkatan sensitivitas insulin. Kondisi ini membantu mengontrol kadar gula darah dan berperan dalam pencegahan diabetes tipe 2.
“Ketika berpuasa, tubuh menjadi lebih efektif dalam mengatur kadar gula darah, sehingga dapat menurunkan risiko diabetes. Selain itu, puasa juga berkontribusi dalam menekan faktor risiko penyakit jantung, seperti menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat, serta trigliserida, yang semuanya penting untuk menjaga kesehatan jantung,” ungkap dr. Mariyam pada Kamis (20/3/2025).
Selain itu, puasa juga memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat dalam mengurangi peradangan di dalam tubuh, sehingga dapat membantu mencegah berbagai penyakit kronis seperti radang sendi.
Penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan proses autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh dalam membersihkan dan memperbarui sel-sel yang rusak. Proses ini mendukung detoksifikasi serta menurunkan risiko penyakit degeneratif.
Tak hanya memberikan dampak positif pada fisik, puasa juga berkontribusi terhadap kesehatan mental. Selama berpuasa, tubuh menghasilkan keton yang berfungsi sebagai sumber energi alternatif bagi otak. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan diri.
“Puasa membantu seseorang menjadi lebih sabar dan mampu mengontrol emosinya. Selain itu, keseimbangan hormon serotonin dan kortisol yang terjaga selama puasa juga berkontribusi dalam mengurangi stres dan meningkatkan fokus,” jelas Mariyam.
Meski banyak manfaatnya, dr. Mariyam mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan kecukupan cairan saat berpuasa. Dia menyarankan konsumsi makanan kaya serat, protein, serta lemak sehat agar energi bertahan lebih lama.
Asupan nutrisi yang cukup saat sahur dapat membantu tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. Selain itu, menjaga pola tidur yang baik dan memilih aktivitas fisik yang ringan juga diperlukan agar tubuh tetap segar selama berpuasa.
Bagi penderita maag atau masalah pencernaan lainnya, menjalani puasa mungkin menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap aman.
“Makanan berlemak, pedas, dan asam sebaiknya dihindari karena dapat memicu produksi asam lambung yang berlebihan. Sebaliknya, pilih makanan yang lebih ramah bagi lambung seperti oatmeal, pisang, atau kentang rebus. Selain itu, minuman berkafein seperti kopi dan teh juga sebaiknya dikurangi karena dapat merangsang produksi asam lambung,” tuturnya.
Selain penderita maag, individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes atau penyakit jantung juga perlu lebih waspada saat berpuasa. Risiko utama yang harus dihindari adalah dehidrasi dan hipoglikemia.
Oleh karena itu, memastikan kecukupan cairan dan mengenali gejala dehidrasi seperti pusing, tubuh lemas, serta warna urine yang lebih gelap sangat penting. Jika mengalami tanda-tanda hipoglikemia seperti gemetar, keringat dingin, dan pusing, sebaiknya segera berbuka dengan makanan yang mengandung gula alami.
Dari segi manfaat kesehatan, puasa Ramadan dan puasa intermiten memiliki prinsip yang hampir sama dalam hal detoksifikasi tubuh dan peningkatan metabolisme. Namun, puasa Ramadan memiliki dimensi spiritual yang tidak ditemukan pada puasa intermiten.
Kata dia, puasa Ramadan tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang kurang beruntung.
“Dengan pola makan yang tepat dan memperhatikan kondisi tubuh, puasa dapat dijalani dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. Persiapan yang baik akan menjadikan puasa sebagai ibadah yang membawa manfaat bagi kesejahteraan fisik dan mental,” pungkasnya. (wh)