Menakar Sound Horeg: Apakah Masih Sekadar Hiburan atau Sudah Melampaui Batas?

Menakar Sound Horeg: Apakah Masih Sekadar Hiburan atau Sudah Melampaui Batas?
*) Oleh : Afifun Nidlom, S.Ag., M.Pd., M.H.
www.majelistabligh.id -

Fenomena sound horeg atau penggunaan perangkat pengeras suara berdaya besar yang sering kali dipakai dalam acara hajatan, arak-arakan, dan konten media sosial, tengah menjadi perbincangan publik.

Suara dentuman musik keras yang menggelegar dari speaker jumbo ini tak jarang memecah ketenangan lingkungan, bahkan masuk ke ruang privat warga.

Di satu sisi, sebagian masyarakat menganggap sound horeg sebagai bentuk kreativitas dan ekspresi budaya.

Namun dari sisi lain, banyak yang mengeluhkan efek kebisingannya yang melanggar kenyamanan dan mengganggu ibadah. Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena ini?

Islam menempatkan adab sebagai dasar bermuamalah dalam kehidupan sosial. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلَّذِینَ یَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنࣰا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمࣰا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini mengajarkan etika bersikap rendah hati dan tidak semena-mena dalam kehidupan sosial. Kebisingan dari sound horeg yang sering dilakukan tanpa izin dan pada waktu tidak tepat bisa dikategorikan sebagai perbuatan melampaui batas terhadap hak orang lain.

Dalam hadis, Rasulullah saw mengajarkan pentingnya menjaga kenyamanan sesama. Bahkan, ketika para sahabat mengeraskan bacaan salat atau doa hingga mengganggu yang lain, Nabi SAW bersabda:

فَلاَ يُؤذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بعضًا، وَلَا يَرْفَعِنَّ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ

“Janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain dalam membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud)

Pada riwayat lain Rasulullah saw menegaskan,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حتَّى لا يَفْخَرَ أَحَدٌ علَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ علَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap rendah hati dan janganlah seseorang berbangga diri atas orang lain dan janganlah seseorang berbuat aniaya terhadap sebagian yang lain.” (HR. Muslim).

Ini menunjukkan bahwa kebisingan yang mengganggu, bahkan dalam ibadah pun ditegur oleh Nabi, apalagi kebisingan dalam bentuk musik keras yang tidak membawa nilai ibadah, bahkan sering bercampur dengan maksiat dan perilaku yang melanggar norma.

Secara sosial, fenomena sound horeg juga menunjukkan ketimpangan dalam tata kelola ruang publik. Warga yang memiliki sumber daya bisa memutar suara keras sekehendaknya, sedangkan tetangga yang merasa terganggu tidak berdaya.

Sosiolog menyebut ini sebagai pengabaian hak kolektif demi kepentingan individu atau kelompok kecil, yang berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Di banyak kasus, sound horeg bahkan merusak relasi sosial dan menimbulkan konflik antartetangga.

Menuju Ekspresi Budaya yang Beradab

Majelis Tabligh mengajak umat Islam untuk tidak bersikap reaktif, melainkan proaktif dalam menanggapi fenomena ini.

Kebudayaan adalah bagian dari dinamika masyarakat, namun harus dilandasi nilai-nilai adab Islami, etika sosial, dan tanggung jawab moral.

Pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat harus saling bersinergi dalam membuat aturan yang adil dan edukatif.

Penerbitan izin penggunaan sound system, jam operasional, hingga pembinaan kepada remaja harus menjadi perhatian bersama.

Islam tidak menolak hiburan, namun menolak hiburan yang merusak, mengganggu, dan melanggar batas. Sound horeg seharusnya menjadi pengingat, bahwa dalam kehidupan bersama, kita tidak hidup sendiri. Setiap tindakan harus mempertimbangkan maslahat umum dan hak tetangga.

Seperti sabda Nabi Muhammad saw:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ وَالْيَومِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan sampai kebisingan suara mengalahkan keheningan hati. Islam mengajarkan umatnya untuk lebih banyak mendengar daripada berteriak, lebih mengedepankan etika daripada euforia.

Mari jadikan sound horeg sebagai pelajaran bahwa ekspresi harus selaras dengan adab, dan kegembiraan harus beriringan dengan kepekaan sosial. (*)

Tinggalkan Balasan

Search