Sosok boneka Susan tentu tidak asing bagi generasi 90-an. Boneka gadis kecil yang pandai berbicara ini diciptakan oleh Ria Enes. Sosok Susan dan Ria Enes memang tidak bisa dipisahkan. Kehadirannya di layar televisi pada acara ‘Pesta Anak’ era 90-an, menjadi salah satu acara anak yang paling populer di masanya.
Hingga saat ini pun, Ria Enes masih setia bersama boneka Susan. Meski namanya tak seramai dulu dibicarakan, namun Ria sendiri tetap eksis di dunia hiburan sebagai penyanyi, penyiar dan pendongeng bersama dengan Susan. Ria Enes dan boneka Susan adalah satu kesatuan. Suara Ria Enes menggunakan suara asli, sedangkan boneka Susan menggunakan suara perut.
Sukses Ria Enes dan Susan mulai diduplikasi untuk media dakwah menggunakan boneka. Tentu saja audiensnya adalah anak-anak. Berdakwah dengan menggunakan media boneka di Indonesia merupakan metode yang kreatif dan efektif, terutama untuk menyampaikan ajaran agama kepada anak-anak. Pendekatan ini dinilai menarik, tidak monoton, dan membantu dalam penanaman nilai-nilai Islam sejak dini.
Berdasarkan ilmu psikologi, anak-anak cenderung memiliki rentang perhatian yang singkat, sehingga penggunaan boneka membantu menjaga fokus mereka pada materi yang disampaikan. Boneka berperan sebagai alat peraga yang konkret, membantu anak-anak memahami cerita, mengenali watak tokoh, dan mengambil pesan moral atau hikmah dari kisah yang disampaikan.
Melalui media boneka, pendakwah dapat menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, kisah Rasul, dan sahabat nabi dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan. Metode ini dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, seperti pengajian rutin, acara menjelang berbuka puasa, hingga kegiatan hiburan di lokasi bencana.
Beberapa pendakwah menggunakan media boneka di antaranya adalah:
- Kak Ipulogi: Menggunakan boneka bernama “Gatotkece” untuk memberikan pemahaman agama yang mudah dan menyenangkan.
- Ustadzah Lulu Susanti: Dikenal sebagai penceramah wanita yang memanfaatkan boneka sebagai media utama dalam berdakwah kepada anak-anak, bahkan mengantarkan salah satu penyuluh Kemenag Klaten masuk nominasi PAI Awards.
- Kak Risma Nurunnisa: Model dakwahnya menggunakan media boneka untuk anak-anak juga menjadi bahan studi deskriptif di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
- Kak Farida: Pernah terlihat membawa boneka bernama Pretti dalam sebuah acara tausiah.
Ternyata dengan media boneka, mampu memberikan cerita, dongeng, atau bermain drama, interaktif, khususnya pada anak-anak. Dengan boneka, fokus anak lebih bagus. Mereka dengan mudah memahami apa yang diceritakan. Apalagi sosok “induk” dari boneka itu mampu memberikan suasana segar, lucu, atau membuat anak-anak tertawa.
Ternyata dengan cara ini, anak-anak mudah sekali mengikuti apa yang didongengkan, diceritakan, atau diajarkan oleh boneka dan induknya. Seperti doa-doa pendek, mampu diserap dan dihapal anak-anak saat diajarkan melaluli boneka. Dakwah bisa melalui berbagai media, sepanjang sesuai dengan auidiens yang menjadi sasarannya. (*)
